Kegiatan Ekonomi dan Konservasi di Danau Toba Harus Dilakukan Seimbang
Selasa, 27 Desember 2022 - 19:43 WIB
loading...
Danau Toba di Sumatera Utara.
A
A
A
JAKARTA - Danau Toba merupakan destinasi penting secara historis dan ekonomi masyarakat Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Bermacam-macam kegiatan mulai dari pariwisata, rumah tangga, transportasi, peternakan, pertanian, budidaya perikanan, hingga pabrik-pabrik industri telah lama dilakukan di kawasan Danau Toba.
Penataan kawasan Danau Toba yang merupakan agenda pemerintah masih menjadi perdebatan hangat hingga saat ini. Berbagai pandangan pro dan kontra mewarnai rencana pemerintah untuk menertibkan kawasan Danau Toba hingga mengembalikan kualitas airnya menjadi oligotrofik, di mana kondisi airnya sangat bening dan jernih sehingga apa yang ada di dalamnya cenderung dapat dilihat. Selain itu, mempunyai ketersediaan oksigen yang memadai dan tidak pernah habis dari permukaan air hingga dasar danau.
(Baca juga:Beli Kreatif Danau Toba Fair, Upaya Promosikan Keindahan Danau Toba dengan Cara Berbeda)
Prof. Ternala Barus, Ketua Peneliti Kajian Daya Dukung & Daya Tampung Danau Toba (DDDT) serta Guru Besar Universitas Sumatera Utara, baru saja merampungkan penelitiannya di 2022. Penelitian tersebut terkait Daya Dukung dan Daya Tampung Danau Toba yang diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara.
“Dari pemantauan 4 tahun berturut-turut Tahun 2005, 2006, 2007 dan 2008 ditemukan nilai Oksigen yang terlarut (DO) Tahun 2006 memang terjadi penurunan. Namun begitu, jika kita menginginkan status Oligotrofik, itu artinya tidak diperbolehkannya kegiatan apapun di Kawasan Toba,” ujar Prof. Ternala dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/12/2022).
Kawasan Danau Toba tidak dapat dipisahkan dari kegiatan ekonomi yang menjadi penopang dan sumber kehidupan masyarakat setempat. Di sisi lain, kelestarian lingkungan tidak dapat ditawar. “Oleh sebab itu semua aktivitas ekonomi dan wisata harus dilakukan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab,” katanya.
(Baca juga:Keindahan 'New Zealand' di Pinggir Danau Toba)
Penataan kawasan Danau Toba yang merupakan agenda pemerintah masih menjadi perdebatan hangat hingga saat ini. Berbagai pandangan pro dan kontra mewarnai rencana pemerintah untuk menertibkan kawasan Danau Toba hingga mengembalikan kualitas airnya menjadi oligotrofik, di mana kondisi airnya sangat bening dan jernih sehingga apa yang ada di dalamnya cenderung dapat dilihat. Selain itu, mempunyai ketersediaan oksigen yang memadai dan tidak pernah habis dari permukaan air hingga dasar danau.
(Baca juga:Beli Kreatif Danau Toba Fair, Upaya Promosikan Keindahan Danau Toba dengan Cara Berbeda)
Prof. Ternala Barus, Ketua Peneliti Kajian Daya Dukung & Daya Tampung Danau Toba (DDDT) serta Guru Besar Universitas Sumatera Utara, baru saja merampungkan penelitiannya di 2022. Penelitian tersebut terkait Daya Dukung dan Daya Tampung Danau Toba yang diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara.
“Dari pemantauan 4 tahun berturut-turut Tahun 2005, 2006, 2007 dan 2008 ditemukan nilai Oksigen yang terlarut (DO) Tahun 2006 memang terjadi penurunan. Namun begitu, jika kita menginginkan status Oligotrofik, itu artinya tidak diperbolehkannya kegiatan apapun di Kawasan Toba,” ujar Prof. Ternala dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/12/2022).
Kawasan Danau Toba tidak dapat dipisahkan dari kegiatan ekonomi yang menjadi penopang dan sumber kehidupan masyarakat setempat. Di sisi lain, kelestarian lingkungan tidak dapat ditawar. “Oleh sebab itu semua aktivitas ekonomi dan wisata harus dilakukan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab,” katanya.
(Baca juga:Keindahan 'New Zealand' di Pinggir Danau Toba)
Lihat Juga :