Benarkah Resesi Bakal Datang di Tahun Baru 2023? Begini Prediksinya

Sabtu, 31 Desember 2022 - 23:29 WIB
loading...
Benarkah Resesi Bakal...
Resesi sering mengejutkan semua orang, dan diperkirakan hal itu bakal terjadi pada tahun baru 2023. Begini pandangan para ekonom. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Resesi sering mengejutkan semua orang, dan diperkirakan hal itu bakal terjadi pada tahun baru 2023. Selama beberapa bulan terakhir, para ekonom telah memperingatkan resesi bakal datang mulai awal tahun depan.

Baca Juga: Inflasi hingga Suku Bunga Tinggi, IMF Memperingatkan Ancaman Resesi Menghantui

Seberapa parah dan lamanya resesi tersebut masih diperdebatkan, tetapi ada kesamaan pendangan di antara para ekonom bahwa ekonomi global memasuki periode kontraksi.

"Secara historis, ketika ada inflasi tinggi dan The Fed (bank sentral Amerika) mendongkrak suku bunga untuk memadamkan inflasi, hal itu menghasilkan penurunan (ekonomi) atau resesi," kata Kepala ekonom di Moody's Analytics, Mark Zandi.

"Itu selalu terjadi-skenario overheating klasik yang mengarah pada resesi. Kami telah melihat cerita ini sebelumnya. Ketika inflasi meningkat dan The Fed meresponsnya dengan mendorong suku bunga, ekonomi pada akhirnya berada di bawah beban suku bunga yang lebih tinggi," bebernya.

Baca Juga: Ketakutan Inflasi Tinggi Masih Akan Membayangi Tahun Baru 2023

Zandi merupakan sedikit dari para ekonom yang menyakini Federal Reserve dapat menghindari resesi dengan menaikkan suku bunga cukup lama untuk menghindari penurunan pertumbuhan. Namun dia mengatakan, perkiraan terbesar adalah ekonomi akan pingsan.

"Biasanya resesi menyelinap ke arah kita. CEO tidak pernah bicara resesi," ujar Zandi.

"Sekarang tampaknya CEO jatuh cinta pada diri mereka sendiri untuk mengatakan kita jatuh ke dalam resesi. ... Setiap orang di TV mengatakan resesi. Setiap ekonom mengatakan resesi. Saya belum pernah melihat yang seperti ini," bebernya.

Fed Biang Kerok

Ironisnya The Fed memperlambat ekonomi, setelah berhasil menyelamatkan kemerosotan ekonomi. Bank sentral membantu merangsang pinjaman dengan suku bunga nol, dan meningkatkan likuiditas pasar dengan menambahkan triliunan dolar dalam aset ke neracanya.

Sekarang mereka melonggarkan neraca itu, dan telah dengan cepat menaikkan suku bunga dari nol pada bulan Maret 2022 menjadi ke kisaran 4,25% hingga 4,5% bulan ini.

Tetapi dalam dua resesi terakhir, pembuat kebijakan tidak perlu khawatir tentang inflasi tinggi yang menggigit daya beli konsumen atau perusahaan. Lalu merayap ke seluruh ekonomi melalui rantai pasokan dan kenaikan upah.

The Fed saat ini mempunyai pertempuran serius dengan inflasi. Diperkirakan kenaikan suku bunga masih akan terjadi hingga menyentuh kisaran 5,1% pada awal tahun 2023. Lalu para ekonomi memperkirakan, tren suku bunga tinggi bakal bertahan demi mengendalikan inflasi.

Suku bunga yang lebih tinggi sudah berdampak pada pasar perumahan, dengan penjualan rumah turun 35,4% dibandingkan tahun lalu pada November. Hal itu menjadi penurunan ke-10 bulan secara beruntun, lalu tingkat hipotek 30 tahun mendekati 7%. Dan inflasi konsumen masih berjalan pada tingkat tahunan 7,1% pada bulan November.

"Anda harus meniup debu dari buku ekonomi Anda. Ini akan menjadi resesi klasik," kata Tom Simons, ekonom pasar uang di Jefferies.

"Mekanisme transmisi yang akan kita lihat bekerja terlebih dahulu di awal tahun depan, lalu kita akan mulai melihat beberapa kompresi margin yang signifikan dalam laba perusahaan. Setelah itu mulai berlaku, mereka akan mengambil langkah-langkah untuk memotong pengeluaran mereka," ucapnya.

"Hal pertama yang akan kita lihat adalah pengurangan jumlah karyawan. Kita akan melihatnya pada pertengahan tahun depan, dan saat itulah kita akan melihat pertumbuhan ekonomi melambat secara signifikan dan inflasi juga turun," bebernya.

Seberapa Buruk Resesi yang Akan Datang

Resesi dianggap sebagai penurunan ekonomi berkepanjangan yang secara luas mempengaruhi berbagai sektor dan biasanya berlangsung dua kuartal atau lebih. Misalnya, kemerosotan pandemi pada tahun 2020 begitu tiba-tiba dan tajam dengan dampak yang luas sehingga dikategorikan sebagai resesi meskipun tidak lama.

"Saya berharap resesi yang datang singkat dan dangkal, selalu ada harapan," kata Kepala Ekonom di KPMG, Diane Swonk.

Proyeksi ekonomi terbaru dari Federal Reserve menunjukkan ekonomi AS tumbuh pada kecepatan 0,5% pada tahun 2023, dan tidak memperkirakan resesi.

Kapan Fed Tidak Lagi Agresif?

Belum jelas berapa lama pembuat kebijakan dapat menahan tren suku bunga tinggi. Pelaku pasar di bursa berjangka mengharapkan Fed mulai memangkas suku bunga pada akhir 2023. Di sisi lain, bank sentral menunjukkan sinyal penurunan suku bunga baru akan dimulai tahun 2024.

Swonk menyakini The Fed harus sedikit longgar di beberapa titik karena ancaman resesi. Diprediksi resesi bisa bertahan lama hingga akhir 2024 dalam periode suku bunga tinggi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Antisipasi Krisis, Ini...
Antisipasi Krisis, Ini Isi Pertemuan Prabowo dan Tokoh Ekonomi Nasional di Istana
1 Miliar Barel Minyak...
1 Miliar Barel Minyak Terguncang Selat Hormuz, Dunia Terancam Resesi
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Pesta Elite, Resesi...
Pesta Elite, Resesi Sulit
Ekonomi Global Bergejolak,...
Ekonomi Global Bergejolak, Stabilitas Pangan dan MBG Harus Dijaga
Rekomendasi
Suara Ledakan Terdengar...
Suara Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, Iran Segera Balas Serangan AS
Solusi Tepat Menghadapi...
Solusi Tepat Menghadapi Situasi Mendadak dalam Perjalanan Bisnis
Masa Penahanan Gus Yaqut...
Masa Penahanan Gus Yaqut Diperpanjang selama 30 Hari
Berita Terkini
IHSG Siang Rebound 2,34%...
IHSG Siang Rebound 2,34% ke Level 5.881 Ditopang Saham Teknologi dan Perbankan
Ojol Keluhkan Harga...
Ojol Keluhkan Harga Pertamax Rp16.250 Kemahalan: Biasanya Naik Cuma Seribu, Ini 3 Ribu Lebih
Harga BBM Makin Mahal,...
Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
Harga Pertamax Rp16.250...
Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Pusing, Pengemudi Ojol dan Warga Teriak
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
Infografis
22 Tahun Mangkrak, 109...
22 Tahun Mangkrak, 109 Tiang Monorel di Jakarta Dibongkar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved