Indonesia Darurat Pangan dan Energi

Rabu, 13 Mei 2015 - 07:07 WIB
Indonesia Darurat Pangan...
Indonesia Darurat Pangan dan Energi
A A A
JAKARTA - Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkapkan, Indonesia saat ini dalam keadaan darurat pangan dan energi. Bila tidak segera diantisipasi, hal itu bisa berdampak pada keamanan nasional.

Wakil Kepala BIN Mayjen TNI (Purn), Erfi Triassunu mengatakan, pangan dan energi merupakan bagian dari ketahanan sebuah negara. Namun, dari fakta, temuan dan analisis Dewan Analis Strategis (DAS) BIN ketahanan pangan dan energi Indonesia masih lemah. Atas dasar itu, BIN harus memiliki upaya deteksi dan cegah dini. Sekaligus prediksi apa yang harus dikerjakan secara bersama-sama.

"Kalau dikatakan dalam keadaan darurat, ya memang ada. Kita ketahui bersama kebutuhan pangan masih banyak impor. Dampak dari lemahnya ketahanan pangan akan berdampak pada keamanan," ujarnya, saat peluncuran buku Memperkuat Ketahanan Pangan Demi Masa Depan Indonesia serta Ketahanan Energi 2015-2025 Tantangan dan Harapan di Jakarta, Selasa (12/5/2015).

Erfi mengungkapkan, pihaknya telah memberikan data analisis intelijen kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Data tersebut kemudian ditindaklanjuti pemerintah dengan langkah-langkah konkret, seperti program menjadikan Papua, sebagai lumbung padi. Bila ini terwujud maka kebutuhan beras tidak perlu dari daerah lain.

"Kita selalu membuat analisis, mengumpulkan semua data temuan dan sudah kita laporkan ke Bapak Presiden. Itu rutin kami lakukan. Beliau sangat menerima masukan dari kami dan memberikan langkah konkret," terangnya.

Menurut Erfi, kelangkaan pangan dan energi dapat memicu orang untuk berbuat anarkhi dan BIN melalui timnya telah mengumpulkan fakta mengenai kemungkinan adanya gejolak. "Oh itu pasti kita temukan di lapangan. Biasanya orang yang lapar itu cepat emosi. Fakta, temuan itu kita berikan ke DAS BIN, mereka melakukan kajian bersama dengan stake holder lainnya," ujarnya.

Ketua DAS BIN Muhammad AS Hikam mengakui, Indonesia masih memiliki ketergantungan pangan dan energi. Untuk pangan misalnya, ketergantungan negara ini sangat luar biasa. Terbukti, bangsa ini masih impor kedelai dan jagung. Bahkan beras meskipun sudah panen raya.

"Ini menunjukan bahwa, swasembada kita memang masih banyak tantangan. Pemerintah saat ini sedang berusaha menggenjot swasembada pangan. Itu karena, masalah pangan juga menjadi salah satu bagian dari masalah keamanan nasional," ucapnya.

Begitu juga dengan energi, lanjut Hikam, ketersediaan energi di Indonesia hanya hitungan waktu antara 18-20 hari. Berbeda dengan negara-negara di Eropa dimana ketersediaan energi mencapai 90 hari bahkan lebih.

"Jepang ketersediaan energi sampai satu tahun, Singapura satu tahun. Indonesia hanya 18-20 hari. Makanya itu sangat berbahaya bagi keamanan negara. Itu pun lokasi cadangan kita tidak berada di Indonesia, tapi di wilayah singapura. Itu menunjukan pentingnya kita melakukan perbaikan di pengelolaan energi ini," paparnya.

Menurut Hikam, sudah saatnya pemerintah membangun kilang-kilang minyak, menggenjot produksi energi alternatif, selain minyak dan gas. "Jadi kondisi kita cukup memprihatinkan. Kita mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan. Jadi, selama ini kita membuat kajian, saran dan solusi kepada pemerintah," tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Prabowo-Gibran Dorong...
Prabowo-Gibran Dorong Swasembada Pangan dan Kemandirian Energi
Sawit Komoditas Strategis...
Sawit Komoditas Strategis Capai Kedaulatan Pangan dan Energi
Pangkas Subsidi dan...
Pangkas Subsidi dan Perkuat Infrastruktur Modal Capai Target Swasembada Energi
Inovasi Energi Bersih...
Inovasi Energi Bersih Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
RI-UEA Kerja Sama Atasi...
RI-UEA Kerja Sama Atasi Krisis Energi dan Pangan
Swasembada Energi, PIS...
Swasembada Energi, PIS Ungkap Pentingnya Optimalisasi AI di Sektor Maritim
Berita Terkini
Ancaman PHK Masih Mengintai,...
Ancaman PHK Masih Mengintai, Said Iqbal: Dipicu Kenaikan Harga BBM dan Relokasi Pabrik
9 menit yang lalu
Prabowo Targetkan Pangkas...
Prabowo Targetkan Pangkas 1.000 BUMN Jadi Tinggal Tersisa 250
3 jam yang lalu
Pahami Prosedur Pemisahan...
Pahami Prosedur Pemisahan dah Pecah Sertifikat Tanah, Berikut Syaratnya
3 jam yang lalu
Potongan Aplikator 8%...
Potongan Aplikator 8% Hanya untuk Ojol Bukan Taksi Online, Begini Kata Menhub
3 jam yang lalu
Rencana Batasan Tar-Nikotin...
Rencana Batasan Tar-Nikotin dan Penyeragaman Kemasan Dinilai Ancam Industri Kretek Nasional
4 jam yang lalu
Bandara Husein Sastranegara...
Bandara Husein Sastranegara Dibuka Lagi, Bagaimana Nasib Kertajati?
6 jam yang lalu
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved