HT Khawatir Rupiah Terperosok Rp14.000/USD
Sabtu, 06 Juni 2015 - 16:01 WIB
HT Khawatir Rupiah Terperosok Rp14.000/USD
A
A
A
JAKARTA - CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) mengkhawatirkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) semakin terpuruk. Menurutnya, bukan tidak mungkin nilai tukar rupiah terperosok ke level Rp14.000/USD
"Kurs saat ini di atas Rp13.000/USD, bisa kemungkinan lebih menjadi Rp13.500-Rp14.000/USD," ujar HT usai menjadi pembicara dalam acara Silaturahmi Nasional IV Fokal Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) di Jakarta, Sabtu (6/6/2015).
Dia memandang, perlu ada kebijakan yang tepat sasaran dari pemerintah untuk mengatasi pelemahan rupiah yang semakin parah, seperti pada 1998 silam. (Baca: Rupiah Dibuka Capai Level Terendah Sejak 1998)
"Persoalan rupiah perlu kebijakan yang tepat sasaran dan cepat. Karena impor besar dan mengena ke masyarakat menengah ke bawah," jelas HT.
Ketua Partai Persatuan Indonesia (Perindo) ini melihat sebenarnya Indonesia memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang sangat besar, tetapi impor masih besar.
"Tambang kita punya, batu bara produsen terbesar. Tapi, di Kalimantan listrik masih impor dari Malaysia. Sehingga, apa yang terjadi jauh dari optimal," tandasnya.
Baca: Rupiah Ambruk, BI Terus Pantau Situasi Ekonomi
"Kurs saat ini di atas Rp13.000/USD, bisa kemungkinan lebih menjadi Rp13.500-Rp14.000/USD," ujar HT usai menjadi pembicara dalam acara Silaturahmi Nasional IV Fokal Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) di Jakarta, Sabtu (6/6/2015).
Dia memandang, perlu ada kebijakan yang tepat sasaran dari pemerintah untuk mengatasi pelemahan rupiah yang semakin parah, seperti pada 1998 silam. (Baca: Rupiah Dibuka Capai Level Terendah Sejak 1998)
"Persoalan rupiah perlu kebijakan yang tepat sasaran dan cepat. Karena impor besar dan mengena ke masyarakat menengah ke bawah," jelas HT.
Ketua Partai Persatuan Indonesia (Perindo) ini melihat sebenarnya Indonesia memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang sangat besar, tetapi impor masih besar.
"Tambang kita punya, batu bara produsen terbesar. Tapi, di Kalimantan listrik masih impor dari Malaysia. Sehingga, apa yang terjadi jauh dari optimal," tandasnya.
Baca: Rupiah Ambruk, BI Terus Pantau Situasi Ekonomi
(dmd)
Lihat Juga :