China Miliki Hak Veto di Bank Infrastruktur

Rabu, 10 Juni 2015 - 08:07 WIB
China Miliki Hak Veto...
China Miliki Hak Veto di Bank Infrastruktur
A A A
BEIJING - China akan memiliki hak veto atas keputusan-keputusan penting di Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) yang dipimpinnya.

Wall Street Journal (WSJ) melaporkan hal itu kemarin. AIIB yang berbasis Beijing memiliki 57 prospek anggota, tapi Amerika Serikat (AS) dan Jepang menolak bergabung.

”Struktur voting akan memberi China kekuatan sebagai pemegang saham terbesar, secara efektif memberinya hak veto,” ungkap sumber yang dikutip WSJ. Menurut sejumlah artikel tentang AIIB, China menyediakan hampir USD30 miliar dari total basis modal USD100 miliar yang dimiliki lembaga keuangan tersebut. Itu artinya, Beijing memiliki total suara antara 25-30%.

”Struktur AIIB akan diawasi oleh dewan direktur non-warga dan tidak dibayar,” papar laporan WSJ. AIIB yang diperkirakan beroperasi tahun depan dianggap sebagai pesaing Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Meski demikian, ada kekhawatiran tentang transparansi lembaga yang akan mendanai infrastruktur di Asia itu. Ada juga kekhawatiran bahwa China akan menggunakan AIIB untuk memperkuat pengaruh ekonomi dan geopolitiknya.

Pekan lalu mantan Chairman Bank Sentral AS (Federal Reserve/Fed) Ben Bernanke mengecam para anggota parlemen AS yang membiarkan China mencuri langkah dengan bank baru tersebut. Menurut Bernanke, AIIB mengancam posisi AS sebagai pengawas tata ekonomi dunia. Bernanke menyatakan, para anggota parlemen harus disalahkan karena mereka menolak menyepakati reformasi 2010 yang akan memberi wewenang lebih besarpada China dan negara berkembang lainnya di Dana Moneter Internasional (IMF).

Dalam kepemimpinan Presiden China Xi Jinping, Negeri Panda berupaya membangun rute perdagangan Jalur Sutra kuno di darat dan laut, melalui inisiatif ”Satu Sabuk, Satu Jalan” yang diperkirakan sebagian akan didanai oleh AIIB. Meski demikian, beberapa pendukung AIIB menyatakan, kekhawatiran bahwa pengaruh China akan menguat itu terlalu berlebihan. Pasalnya, partisipasi lebih dari 50 negara, termasuk Inggris dan Iran, akan melemahkan pengaruh China.

Sementara, inflasi konsumen China turun menjadi 1,2% pada Mei. Data yang dirilis kemarin itu menjadi sinyal terbaru bahwa pertumbuhan ekonomi di negara itu masih terganjal dan diperlukan lebih banyak kebijakan moneter dana murah. ”Indeks harga konsumen (consumer price index /CPI) yang menjadi acuan utama inflasi, melemah dari 1,5% pada April,” ungkap pernyataan Biro Statistik Nasional China (NBS), dikutip kantor berita AFP .

Data itu sedikit lebih rendah dari proyeksi rata-rata 1,3% dalam survei ekonom Bloomberg News. Inflasi melemah di China saat pertumbuhan turun dan harga komoditas merosot. Situasi ini membuat beberapa ekonom mengkhawatirkan Negeri Panda masuk dalam siklus deflasi. Kekhawatiran meningkat sejak Januari, saat CPI mencapai level terendah sejak 2009, sehingga mendorong otoritas untuk segera bertindak mengatasi penurunan harga yang dapat menghambat belanja konsumen dan pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi China tumbuh 7,4% pada 2014, level terendah dalam 24 tahun. Ekonomi China hanya menunjukkan sedikit sinyal pertumbuhan pada tahun ini. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) melemah menjadi 7% pada Januari-Maret, hasil kuartal terburuk dalam enam tahun. Data inflasi ini membuat para analis memperkirakan pemerintah segera menerapkan kebijakan moneter dana murah selanjutnya setelah tiga kali pemangkasan suku bunga sejak 2014.

”Penurunan inflasi CPI mencerminkan permintaan domestik yang masih lemah dan memberi ruang pada kebijakan selanjutnya,” ungkap para ekonom Nomura dalam catatannya. China berupaya mengubah model pertumbuhan ekonomi yang didorong investasi pemerintah, menjadi model pertumbuhan yang didorong permintaan konsumen. Menurut otoritas, model baru akan lebih menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

”Indeks harga produsen (producer price index /PPI) yang mengukur biaya barang di pintu pabrik dan indikator utama untuk CPI turun 4,6% pada Mei, sama seperti April dan penurunan berturut-turut di bulan ke-39,” ungkap NBS.

Para ekonom Nomura menjelaskan, dua pemangkasan suku bunga lagi dan dua lagi pengurangan reserve requirement ratio (RRR) akan dilakukan tahun ini. ”Langkah selanjutnya sepertinya dilakukan pada Juli,” papar mereka.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
AllianzGI Sebut Pasar...
AllianzGI Sebut Pasar Global Masih Resilien, Seleksi Aset Jadi Kunci di Tengah Ketidakpastian
2 menit yang lalu
TikTok soal Kabar PHK...
TikTok soal Kabar PHK 90% Karyawan Tokopedia: Ini Bukan Keputusan Mudah
4 menit yang lalu
Citi Indonesia Perkuat...
Citi Indonesia Perkuat Jaringan Global Dorong Pertumbuhan Bisnis
44 menit yang lalu
Telkom Akses Dorong...
Telkom Akses Dorong Pemerataan Talenta Digital di Daerah 3T Melalui Program Fiber Academy
44 menit yang lalu
MNC Sekuritas Dorong...
MNC Sekuritas Dorong Investor Mulai Investasi Reksa Dana lewat Promo Bonus Unit Penyertaan 100%
1 jam yang lalu
Langkah Nyata Pegadaian...
Langkah Nyata Pegadaian dan Universitas Andalas Bangun Masyarakat Tangguh Bencana
1 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved