Saling Sikut, Pertamina-PGN Bakal Rugikan Negara
Kamis, 11 Juni 2015 - 15:25 WIB
Saling Sikut, Pertamina-PGN Bakal Rugikan Negara
A
A
A
JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi mengungkapkan, persaingan antara PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) bakal merugikan negara. Pasalnya, persaingan antara kedua perusahaan plat merah ini cenderung bersifat saling sikut.
"Pertamina dan PGN saat ini kan saling sikut. Bersaing yang tidak benar, negara yang dirugikan," katanya di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (11/6/2015).
Karena itu, Kurtubi menyarankan agar kedua BUMN energi ini disatukan, baik dalam mekanisme holding atau pembelian saham oleh Pertamina kepada PGN. Kurtubi menuturkan, jika dua perusahaan negara digabung maka akan mempercepat pembangunan infrastruktur gas.
"Untuk menggampangkan dan mempercepat pembangunan infrastruktur gas, rumah tangga dan transportasi. Energi gas ini tidak boleh digantungkan oleh impor, elpiji itu impor. Kita akan salurkan lewat pipa karena gas yang kita punya di Natuna itu bisa sampai 50 tahun," jelasnya.
Terlebih, dia menambahkan, PGN cenderung enggan membangun infrastruktur gas rumah tangga dan transportasi karena keuntungan yang didapat minim.
"Sementara 40% (saham PGN) milik swasta. PGN ingin untung tinggi terus, padahal ini untung kecil juga terus-menerus, akhirnya tidak dikerjakan. Tapi kalau sudah gabung dengan Pertamina, atau Pertamina membeli sahamnya maka akan lebih mudah. Tinggal Pertamina buyback PGN, entah pakai uang Pertamina atau uang APBN," tandas Kurtubi.
"Pertamina dan PGN saat ini kan saling sikut. Bersaing yang tidak benar, negara yang dirugikan," katanya di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (11/6/2015).
Karena itu, Kurtubi menyarankan agar kedua BUMN energi ini disatukan, baik dalam mekanisme holding atau pembelian saham oleh Pertamina kepada PGN. Kurtubi menuturkan, jika dua perusahaan negara digabung maka akan mempercepat pembangunan infrastruktur gas.
"Untuk menggampangkan dan mempercepat pembangunan infrastruktur gas, rumah tangga dan transportasi. Energi gas ini tidak boleh digantungkan oleh impor, elpiji itu impor. Kita akan salurkan lewat pipa karena gas yang kita punya di Natuna itu bisa sampai 50 tahun," jelasnya.
Terlebih, dia menambahkan, PGN cenderung enggan membangun infrastruktur gas rumah tangga dan transportasi karena keuntungan yang didapat minim.
"Sementara 40% (saham PGN) milik swasta. PGN ingin untung tinggi terus, padahal ini untung kecil juga terus-menerus, akhirnya tidak dikerjakan. Tapi kalau sudah gabung dengan Pertamina, atau Pertamina membeli sahamnya maka akan lebih mudah. Tinggal Pertamina buyback PGN, entah pakai uang Pertamina atau uang APBN," tandas Kurtubi.
(rna)
Lihat Juga :