S&P Pangkas Outlook Ekonomi Inggris

Minggu, 14 Juni 2015 - 09:37 WIB
S&P Pangkas Outlook...
S&P Pangkas Outlook Ekonomi Inggris
A A A
LONDON - Lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) memangkas outlook ekonomi Inggris karena rencana referendum keanggotaan Uni Eropa (UE).

”Referendum itu menjadi risiko bagi prospek pertumbuhan ekonomi negara itu,” papar pernyataan S&P, dikutip BBC . S&P mengubah outlook menjadi negatif dari stabil, tapi mempertahankan rating Inggris saat ini. Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron berjanji menggelar referendum apakah Inggris tetap atau keluar dari keanggotaan UE pada 2017. Merespons langkah S&P, Kementerian Keuangan Inggris menyatakan, ”Kami sejak awal menyatakan bahwa ini saat ada risiko yang mengancam pemulihan, itulah mengapa kita perlu terus bekerja sesuai rencana yang menciptakan keamanan ekonomi.

Pusat rencana itu ialah memberi rakyat Inggris suara untuk keanggotaan kita di UE dalam empat puluh tahun dan menyelesaikan ketidakpastian hubungan Inggris dengan UE.” Adapun S&P memperingatkan, bukan hanya referendum yang mengakibatkan kekhawatiran. ”Kami yakin kemungkinan keluarnya Inggris dari UE juga menambah pertanyaan tentang keuangan Inggris yang defisit dan utang eksternal jangka pendek privat yang tinggi,” papar pernyataan S&P.

Lebih lanjut S&P memperingatkan, kurangnya konsensus politik dapat memengaruhi kebijakan Inggris di masa depan. ”Ini juga pendapat kami bahwa menyerukan referendum untuk keanggotaan UE mengindikasikan pembuatan kebijakan ekonomi dapat berisiko lebih diarahkan partai politik dibandingkan yang kita antisipasi sebelumnya,” ungkap pernyataan S&P. Rating kredit yang lebih rendah membuat negara itu harus membayar lebih mahal untuk meminjam uang.

Outlook negatif berarti satu dari tiga peluang penurunan rating dalam dua tahun mendatang. S&P merupakan satu-satunya lembaga rating ternama yang masih memberi Inggris rating atas AAA, karena mereka melihat ekonomi Inggris fleksibel dan terdiversifikasi. Lembaga rating lainnya, Moody’s dan Fitch, menurunkan peringkat Inggris pada 2013 karena khawatir tentang pertumbuhan ekonomi dan kemampuan negara itu membayar kembali utangnya.

Awal pekan ini pengawas independen Kantor Tanggung Jawab Anggota memperingatkan, pemangkasan belanja selama beberapa tahun lagi masih diperlukan untuk mengontrol utang nasional. Sementara, pengangguran di zona euro turun ke level terendah dalam tiga tahun menjadi 11,1% pada April. Data itu menjadi tanda bahwa pasar tenaga kerja di Eropa sudah mulai membaik.

”Pengangguran di 19 negara anggota zona euro turun dari revisi 11,2% pada Maret, tapi pengangguran pemuda tetap tinggi 22,3%,” papar Eurostat, badan statistik Uni Eropa (UE), dikutip kantor berita AFP .

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Hadirkan Teknologi Smart...
Hadirkan Teknologi Smart Ecosystem Compactplus, Produksi Lokal Berstandar Internasional
13 menit yang lalu
Purbaya dan Said Iqbal...
Purbaya dan Said Iqbal Mau Makan Siang Bareng Besok, Ada Apa?
13 menit yang lalu
Kinerja BUMN Menguat,...
Kinerja BUMN Menguat, Muncul Motor Pertumbuhan Baru
27 menit yang lalu
Euforia Pesta Bola Dunia...
Euforia Pesta Bola Dunia Menular ke Aset Kripto, Trade for Glory 2026 Digelar
45 menit yang lalu
Mitigasi Risiko Blackout,...
Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik
1 jam yang lalu
Danantara Mulai Merger...
Danantara Mulai Merger BUMN Sekuritas, Mandiri hingga BNI Sekuritas Dilebur
1 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved