Tak Lagi Gunakan L/C Pertamina Makin Efisien

Rabu, 17 Juni 2015 - 09:51 WIB
Tak Lagi Gunakan L/C...
Tak Lagi Gunakan L/C Pertamina Makin Efisien
A A A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menegaskan, dibekukannya Pertamina Energy Trading Limted (Petral) sama sekali tidak mengganggu proses pengadaan bahan bakar minyak (BBM) oleh perusahaan.

Bahkan, perusahaan juga tidak lagi perlu membuka letter of credit (L/C) dalam proses impor BBM sehingga lebih efisien. ”Jadi Pertamina tidak harus buka L/C. Justru dengan begitu, kita tidak terbebani sehingga efisien. Dulu Petral menerbitkan L/C cukup besar, mencapai Rp60 triliun. Sekarang tanpa L/C tiga bulan awal saja sudah terjadi efisiensi USD29 juta atau sekitar Rp300 miliar,” kata Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto di Jakarta kemarin.

Dwi mengatakan, sebelumnya memang tidak sedikit yang mengkhawatirkan, jika tanpa Petral, Pertamina tidak lagi dipercaya oleh produsen minyak luar negeri untuk melakukan impor BBM. Anggapan itu salah besar karena Pertamina bisa melakukan impor BBM tanpa harus membuka L/C seperti yang dilakukan oleh Petral. Bahkan, banyak perusahaan besar yang bersedia memasok BBM ke Pertamina tanpa harus membuka L/C.

Karena itu, Dwi menegaskan bahwa Pertamina menjamin keandalan pasokan BBM dalam negeri untuk aktivitas produksi, transportasi, distribusi, dan mobilitas masyarakat. Direktur Institute Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengatakan, kesediaan perusahaan-perusahaan besar memasok BBM ke Pertamina tanpa harus menerbitkan L/C menjadi indikasi yang baik bagi industri migas dalam negeri. Menurut Marwan, selama ini penerbitan L/C tidak praktis karena prosesnya yang berkepanjangan. ”Ini bisa menjadi insentif sendiri. L/C itu administrasi dan prosesnya sulit,” ungkapnya.

Marwan menjelaskan, L/C akan lebih menguntungkan pihak asing ketimbang lokal. Hal itu disebabkan mayoritas bankbank penerima L/C bukan bank nasional. ”Kebanyakan bank asing dan merekalah yang menikmati uangnya,” ujar dia.

Marwan juga menambahkan, pencatatan devisa dapat lebih dioptimalkan jika semua instansi terkait seperti Bea Cukai menjalankan tugasnya dengan baik. Sebab, bisa saja terjadi penyelundupan sehingga angka tersebut tidak tercatat Bea Cukai. ”Data ekspor-impor seharusnya adalah data riil yang bisa dipercaya,” tuturnya.

Nanang wijayanto
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
16 menit yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
1 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
1 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
2 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
3 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
4 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved