Proyek APBN Harus Utamakan Produk Dalam Negeri

Rabu, 24 Juni 2015 - 09:39 WIB
Proyek APBN Harus Utamakan...
Proyek APBN Harus Utamakan Produk Dalam Negeri
A A A
JAKARTA - Pemerintah terus mendorong penggunaan produk logam dalam negeri terutama pada proyek-proyek yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Saat ini pemerintah mengakui bahwa pertumbuhan industri logam nasional sedang melambat akibat dari lemahnya pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, pemerintah akan memberdayakan industri domestik melalui pengamanan pasar, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan nilai tambah.

”Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) diharapkan mampu menjadi pemicu penggunaan produk logam dalam negeri,” ujar Saleh saat membuka pameran produk industri material dasar logam di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, Kementerian Perindustrian sangat mengharapkan seluruh lapisan masyarakat terutama instansiinstansi pemerintah dapat memprioritaskan produk penggunaan dalam negeri yang sudah bisa diproduksi putra putri Indonesia.

Di samping itu, impor bahan baku juga terus diperbaiki sehingga ke depan tidak lagi mengimpor bahan baku yang harusnya bisa diproduksi di dalam negeri. Saleh mengakui, saat ini penggunaan barang impor di Indonesia masih relatif tinggi karena harga jual lebih rendah dibanding produk nasional.

Kondisi ini pun menyebabkan rendahnya kinerja dan utilisasi industri nasional. ”Untuk menekan penggunaan jumlah produk impor dan mendorong tumbuhnya industri dalam negeri, diperlukan keberpihakan pemerintah terhadap produk yang dihasilkan oleh industri dalam negeri, khususnya di sektor industri material dasar logam,” ujar dia.

Dia mengatakan, pada 2014 lalu pertumbuhan sektor industri material dasar logam hanya 5,89%, turun drastis dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 11,63%. Sementara, Direktur Eksekutif Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Hidajat Triseputro mengatakan, siap memproduksi baja untuk proyek-proyek nasional. Saat ini konsumsi baja terus meningkat hingga mencapai 14 juta ton. Dari jumlah tersebut yang baru bisa diproduksi di dalam negeri baru sekitar 8-9 juta ton.

”Silakan kalau belum bisa memenuhi kita impor tapi dengan harga yang terkendali. Yang penting lokal dulu, kalau kurang nanti impor,” ujarnya.

Oktiani endarwati
(bhr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
1 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
2 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
2 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
2 jam yang lalu
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
2 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved