Pengamat Nilai Sektor Energi Makin Karut Marut

Rabu, 08 Juli 2015 - 14:15 WIB
Pengamat Nilai Sektor...
Pengamat Nilai Sektor Energi Makin Karut Marut
A A A
JAKARTA - Pengamat Ekonomi Energi Yusri Usman menilai, sektor energi saat ini semakin karut marut. Karena itu, sejak 29 Juni 2015 proses audit forensik terhadap Pertamina Energy Sevices Ltd Singapore mulai dilakukan.

Audit ini dilakukan oleh perusahaan Konsultan Forensik dari Australia yang bernama Kordamentha cabang Singapore yang ditunjuk oleh SPI Pertamina pusat.

"Kedatangan tim audit ke kantor Petral-PES diantar langsung oleh Direktur Umum Pertamina Dwi Daryoto, didampingi VP Upstream Pertamina. Tim ini juga didampingi tim dari Kejaksaan Agung dan sekarang sudah bekerja," kata Yusri kepada wartawan, Selasa (8/7/2015).

Namun, tim ini hanya difokuskan untuk melakukan forensik terhadap kegiatan pengadaan 2012 sampai 2014. "Kalau informasi ini benar, artinya ini adalah suatu kebijakan yang aneh, karena temanya adalah untuk proses pembubaran Petral yang digembar gemborkan sarang mafia migas," ujarnya.

Menurut dia, seharusnya tim audit forensik ini memeriksa semua aktivitas sejak Petral Singapore berubah fungsi dari pengekspor menjadi pengimpor pada 2004, maka seharusnya yang benar proses audit forensik dimulai sejak 2004 sampai akhir 2014.

"Yang menjadi pertanyaan juga mengapa BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang selama ini mengaudit PES tidak dilibatkan? Padahal menurut UU bahwa unsur kerugian negara harus dikeluarkan BPK RI," tegas Yusri.

Dia mengatakan, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Menteri BUMN Rini Soemarno layak dicopot. Kebijakan Rini telah menyebabkan carut marut di bidang ekonomi energi.

Contoh lain kebijakan Rini yakni penunjukan Direktur Utama perusahaan pelat merah yang tidak memiliki pengalaman di bidang usaha korporasi yang dipimpin.

"Saya menyoroti kebijakan Rini dalam sektor energi. Khususnya penempatan direktur utama Pertamina," imbuhnya.

Selain itu, kebijakan Menteri Rini terkait tukar guling saham Mitratel dan aktivitas penempatan pengolahan data Telkomsel di Singapura yang potensi merugikan negara dari sektor ekonomi dan keamanan negara.

"Tepat dicopot, hanya persoalannya hak prerogatif kan di tangan Presiden. Apakah benar Presiden mau copot? Kemudian Rini adalah tim sukses ring I dan ketua tim transisi, tentu banyak rahasia sejak sebelum kampanye Pilpres yang dia pegang. Bisa jadi kartu truf ini akan dia gunakan menekan Presiden," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sekolah dengan Teknologi...
Sekolah dengan Teknologi Energi Terbarukan di Tasmania
Transisi Me­nu­ju...
Transisi Me­nu­ju Era Energi Bersih Men­dekati Kenyataan
Pemerintah Evaluasi...
Pemerintah Evaluasi Kebijakan Penerapan Subsidi Energi
Pemerintah Masih Mengkaji...
Pemerintah Masih Mengkaji Skema Penyaluran Subsidi Energi
Keren, Sekam Padi yang...
Keren, Sekam Padi yang Selama Ini Terbuang Ternyata Bisa Jadi Sumber Listrik
Energi Nuklir Jadi Solusi...
Energi Nuklir Jadi Solusi Data Center yang Rakus Energi!
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
5 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
5 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
7 jam yang lalu
Infografis
10 Fakta Konflik AS...
10 Fakta Konflik AS - Venezuela: Perebutan Pengaruh dan Energi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved