Penyebab Krisis Yunani Berbeda dengan Indonesia

Rabu, 08 Juli 2015 - 19:25 WIB
Penyebab Krisis Yunani...
Penyebab Krisis Yunani Berbeda dengan Indonesia
A A A
JAKARTA - Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Anwar Nasution mengatakan, penyebab krisis ekonomi Yunani berbeda dengan Indonesia, bagaikan bumi dengan langit.

Krisis ekonomi di Yunani disebabkan karena besarnya pinjaman luar negeri pemerintahnya yang sudah lama hidup besar pasak dari tiang. Di Indonesia, masalahnya berbeda dan tidak ada kaitannya dengan utang pemerintah yang dewasa ini masih terkontrol.

"Penyebab pertama sumber kerawanan ekonomi Indonesia adalah karena utang luar negeri sektor swastanya terlalu besar. Pada umumnya, utang itu merupakan utang dalam bentuk valuta asing berjangka pendek untuk membelanjai investasi berjangka panjang. Sebagian dari investasi itu hanya menghasilkan penenerimaan dalam bentuk rupiah," katanya di Jakarta, Rabu (8/7/2015).

Invetasi itu termasuk real estate yang berkembang pesat, industri pertambangan, manufaktur dan sebagainya guna memanfaatkan tingkat suku bunga murah di Singapura.

"Industri perbankan Indonesia, yang didominir bank-bank negara sangat inefisien sehingga perbedaan antara tingkat suku bunga deposito dan kredit yang tertinggi di lingkungan negara-negara ASEAN," ujar dia.

Anwar mengatakan, lebih dari sepertiga likuiditas bursa efek dan pasar obligasi dalam negeri berasal dari pemasukan modal asing jangka pendek. Bisa saja modal itu uang milik orang Indonesia yang di parkir di Singapura dan Hong Kong.

Kedua, harga komoditi primer yang menjadi andalan ekspor Indonesia terus merosot sejak 2011. Industri manufaktur dan PMA sudah mengalami kemerosotan sejak 10 tahun masa kepresidenan SBY akibat dari penguatan mata uang, sistem perdagangan dan perizinan yang semakin protektip dan infrastruktur (listrik, jalan, pelabuhan) yang sangat terbatas.

"Sistem perdagangan yang protektif itu, antara lain tercermin dari kebijakan pengolahan bijih tambang padahal kita tidak punya instrastruktur dan tenaga listrik yang besar dan murah. Karena larangan ekspor dan tarif ekspor bijih mineral yang mahal, Indonesia menjadi negara tak dapat diandalkan. Sehingga pembeli beralih ke negara penghasil lain, seperti Philipina, PNG dan Australia," katanya.

Ketiga, dunia usaha kesulitan melunasi bunga dan pokok utangnya karena disatu pihak, tingkat suku bunga luar negeri dan dalam negeri semakin meningkat dan rupiah melemah.

"Di lain pihak, harga produknya semakin melemah. Pada gilirannya, tunggakan kredit dan pelemahan rupiah meningkatkan NPL perbankan dan risiko transansaksi devisanya yang mengurus kecukupan modalnya," tutup dia.

Masalah perbankan seperti ini, kata Anwar, persis seperti yang terjadi pada krisis 1997-1998. "Pada waktu itu, APBN sedikit surplus dan defisit neraca berjalan juga tidak menghawatirkan karena berada di bawah 4% dari PDB," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Krisis Laut Mediterania...
Krisis Laut Mediterania Timur, Erdogan Sebut Yunani Bandit
Fleksibilitas APBN Berkelanjutan
Fleksibilitas APBN Berkelanjutan
Yunani: UE Tidak Siap...
Yunani: UE Tidak Siap Hadapi Krisis Migran Baru yang Dipicu Konflik Afghanistan
Mengenal PIIGS, Aliansi...
Mengenal PIIGS, Aliansi 5 Negara Eropa yang Menyebabkan Krisis Moneter di Eropa
Episentrum Krisis Ekonomi
Episentrum Krisis Ekonomi
Yunani Pagari Perbatasan...
Yunani Pagari Perbatasan dengan Turki, Cegah ’Banjir’ Migran dari Afghanistan
Berita Terkini
AKPY, BPDP dan Ditjenbun...
AKPY, BPDP dan Ditjenbun Sinergi Gelar Pelatihan Teknis 90 Pekebun Sawit
21 menit yang lalu
Kemnaker: Korban PHK...
Kemnaker: Korban PHK Tembus 43.000 Orang, Sektor Manufaktur Terbanyak
43 menit yang lalu
KTM Growth Forum 2026,...
KTM Growth Forum 2026, Bahas Kesiapan Talenta dan Suksesi Kepemimpinan
2 jam yang lalu
Kabar Buruk, Perusahaan...
Kabar Buruk, Perusahaan Rokok Raksasa Ini Bakal PHK 9.000 Karyawan
2 jam yang lalu
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,63 Juta per Gram Hari Ini
3 jam yang lalu
QuickPro Ajak Trader...
QuickPro Ajak Trader Emas Bangun Kemandirian Analisa
3 jam yang lalu
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved