Jika Fed Rate Naik, Rupiah Diproyeksi ke Rp12.800/USD
Rabu, 15 Juli 2015 - 14:00 WIB
Jika Fed Rate Naik, Rupiah Diproyeksi ke Rp12.800/USD
A
A
A
JAKARTA - Analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee memprediksi posisi nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) akan menguat jika Bank Sentral AS atau The Fed menaikan suku bunganya (Fed rate).
Hans memperkirakan, suku bunga The Fed akan dikerek pada semester II tahun ini, sekitar September mendatang. Akibatnya, rupiah diprediksi mampu menguat ke level Rp12.800/USD.
"Ekspektasi rupiah menguat sesudah September jika The Fed pastikan kenaikan suku bunganya," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Rabu (15/7/2015).
Dia menyampaikan, kondisi rupiah yang masih melemah akibat adanya dua tekanan. Pertama, kondisi perekonomian dunia, terutama krisis Yunani serta bursa China yang sempat merosot tajam. Faktor kedua, turunnya harga komoditasi.
"Saya melihat ada rugi kurs yang lumayan di tahun lalu dan tahun ini," jelas Hans.
Di sisi lain, faktor tersebut juga turut mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berpotensi berbalik arah menguat (rebound).
"Sesudah September akan naik investasi asing di pasar saham. Pembalikan arah terjadi, tekanan berkurang. Sampai akhir tahun optimistis di level 5.600 jika realisasi belanja pemerintah lancar dan The Fed naik tidak ekstrem naikan suku bunga," pungkasnya.
Baca:
USD Tertekan, Rupiah Dibuka Balik Menguat
Ekonomi Melemah Bikin Asing Keluar dari Pasar Saham
Hans memperkirakan, suku bunga The Fed akan dikerek pada semester II tahun ini, sekitar September mendatang. Akibatnya, rupiah diprediksi mampu menguat ke level Rp12.800/USD.
"Ekspektasi rupiah menguat sesudah September jika The Fed pastikan kenaikan suku bunganya," ujarnya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Rabu (15/7/2015).
Dia menyampaikan, kondisi rupiah yang masih melemah akibat adanya dua tekanan. Pertama, kondisi perekonomian dunia, terutama krisis Yunani serta bursa China yang sempat merosot tajam. Faktor kedua, turunnya harga komoditasi.
"Saya melihat ada rugi kurs yang lumayan di tahun lalu dan tahun ini," jelas Hans.
Di sisi lain, faktor tersebut juga turut mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berpotensi berbalik arah menguat (rebound).
"Sesudah September akan naik investasi asing di pasar saham. Pembalikan arah terjadi, tekanan berkurang. Sampai akhir tahun optimistis di level 5.600 jika realisasi belanja pemerintah lancar dan The Fed naik tidak ekstrem naikan suku bunga," pungkasnya.
Baca:
USD Tertekan, Rupiah Dibuka Balik Menguat
Ekonomi Melemah Bikin Asing Keluar dari Pasar Saham
(rna)