Belanja Infrastruktur Harus Berkualitas

Senin, 20 Juli 2015 - 09:31 WIB
Belanja Infrastruktur...
Belanja Infrastruktur Harus Berkualitas
A A A
JAKARTA - Pemerintah menyatakan penyerapan anggaran belanja negara, termasuk belanja infrastruktur, meningkat pada semester II/2015.

Sedangkan, pengamat berharap ada perbaikan kualitas dalam belanja infrastruktur agar nilai tukar rupiah tetap terjaga. Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, penyerapan anggaran per 16 Juli 2015 baru sekitar 41% atau Rp820 triliun dari total pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar Rp1.984 triliun.

Dia pun mengatakan, penyerapan anggaran akan dipercepat pada semester II/2015. “Penyerapan setelah Lebaran akan meningkat lagi,” kata dia di kediamannya, Jakarta, akhir pekan lalu.

Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal itu menilai rendahnya penyerapan anggaran pada semester I/2015 merupakan pola yang berulang seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Dia pun memprediksi penyerapan anggaran hingga akhir tahun akan mencapai 96% atau Rp1.905 triliun.

Dari sisi penerimaan, Bambang mengatakan, penerimaan negara secara keseluruhan juga baru sekitar 40% atau Rp705 triliun dari total pagu APBN-P 2015 Rp1.761,6 triliun. Dia pun memprediksi penerimaan negara hingga akhir tahun hanya mencapai 91% atau Rp1.603 triliun.

Oleh sebab itu, Bambang menyebut kemungkinan kekurangan penerimaan (shortfall) pada akhir tahun akan mencapai Rp120 triliun. Sementara, realisasi belanja pemerintah yang tidak terserap diprediksi akan mencapai Rp80 triliun. “Jadi, defisit (APBN-P) kita kemungkinan melebar ke 2,2%,” ucap dia.

Sementara, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menuturkan, sebagian besar komponen pembangunan infrastruktur masih tergantung impor. Dengankatalain, kebutuhan akan valas semakin meningkat.

“Mulai Agustus, belanja pemerintah mulai tinggi. Tapi yang perlu dilihat, jangan cuma kuantitas. Menurut saya, pemerintah perlu memperbaiki kualitas belanjanya,” katanya. Aviliani mengatakan, pemerintah juga perlu memperhatikan belanja pemerintah dalam aspek menjaga nilai tukar rupiah. Hal ini penting supaya rupiah tidak terdepresiasi semakin dalam.

Ekonom Bank Danamon, Anton Hendranata menambahkan, pemerintah perlu segera mempercepat pengerjaan proyek infrastruktur seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Pembangunan proyek infrastruktur dinilai dapat menjadi stimulus ekonomi yang mampu mendorong laju ekonomi yang tengah lesu.

“Kuncinya tinggal government spending untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur. Kalau trennya sudah kelihatan, meski tidak sesuai janjinya 100%, akan punya dampak (ekonomi),” katanya saat dihubungi baru-baru ini.

Anton mengatakan, pasar memahami alasan pemerintah terkait rendahnya serapan belanja negara, salah satunya karena perubahan nomenklatur di sejumlah kementerian/lembaga (K/L) Namun, dia juga mempertanyakan K/L yang tidak melakukan perubahan nomenklatur tetapi serapannya rendah.

Rahmat Fiansyah
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
DSI Dinilai Bisa Perkuat...
DSI Dinilai Bisa Perkuat Ekspor dan Transparansi Tata Kelola SDA
6 menit yang lalu
IHSG Kebakaran, Rontok...
IHSG 'Kebakaran', Rontok 3,58% ke 5.734 Siang Ini
17 menit yang lalu
Mendorong Standar Baru...
Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global
33 menit yang lalu
DPR Sahkan Revisi UU...
DPR Sahkan Revisi UU PPSK Hari Ini, Berikut Poin-poin Lengkapnya
1 jam yang lalu
Ayo Belajar Cara Investasi...
Ayo Belajar Cara Investasi ETF di IG Live MNC Sekuritas: Investasi Simpel dengan Diversifikasi Otomatis
1 jam yang lalu
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
1 jam yang lalu
Infografis
Rusia Harus Siap Bentrokan...
Rusia Harus Siap Bentrokan Langsung dengan NATO 10 Tahun Lagi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved