Euro Menguat Tipis, Rupiah Siang Ini Terdepresiasi
Senin, 27 Juli 2015 - 13:06 WIB
Euro Menguat Tipis, Rupiah Siang Ini Terdepresiasi
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan siang hari ini terdepresiasi di tengah menguatnya euro.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas pada level Rp13.453/USD. Posisi tersebut makin melemah dibanding akhir pekan lalu di Rp13.453/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg di level Rp13.455/USD, memburuk dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp13.447/USD.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp13.470/USD. Posisi ini terkoreksi dari posisi penutupan sebelumnya di Rp13.445/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.453/USD, tak jauh berbeda dengan penutupan sebelumnya di Rp13.448/USD.
Sementara laju USD masih stabil terhadap euro dan yen setelah penurunan saham AS dan redupnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) karena pasar fokus pada pertemuan kebijakan Federal Reserve.
Dikutip dari Reuters, euro naik 0,2% menjadi 1,1000/USD, setelah naik sekitar 1,4% pada pekan lalu. USD menghadapi keadaan yang sama terhadap yen, setelah melonjak ke level tertinggi enam pekan ke 124,48 pada awal pekan lalu, namun berakhir turun 0,2% ke 123,56.
Selain dari Fed, fokus tetap pada harga komoditas, yang berdampak pada mata uang. Dampak dari rendahnya harga komoditas telah dirasakan oleh mata uang eksportir komoditas, seperti Kanada, Australia dan Norwegia. Tapi mata uang importir komoditas, seperti yen diperkirakan juga merasakan efeknya.
Dolar Australia berjuang dari posisi terendah enam tahun terhadap USD. Dolar Australia pada akhir pekan lalu berada di 0,7260/USD, terendah sejak Mei 2009. Sementara dolar Selandia Baru naik 0,3% menjadi 0,6599/USD.
(Baca: USD Stabil, Rupiah Dibuka Mendatar)
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas pada level Rp13.453/USD. Posisi tersebut makin melemah dibanding akhir pekan lalu di Rp13.453/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg di level Rp13.455/USD, memburuk dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp13.447/USD.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp13.470/USD. Posisi ini terkoreksi dari posisi penutupan sebelumnya di Rp13.445/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.453/USD, tak jauh berbeda dengan penutupan sebelumnya di Rp13.448/USD.
Sementara laju USD masih stabil terhadap euro dan yen setelah penurunan saham AS dan redupnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) karena pasar fokus pada pertemuan kebijakan Federal Reserve.
Dikutip dari Reuters, euro naik 0,2% menjadi 1,1000/USD, setelah naik sekitar 1,4% pada pekan lalu. USD menghadapi keadaan yang sama terhadap yen, setelah melonjak ke level tertinggi enam pekan ke 124,48 pada awal pekan lalu, namun berakhir turun 0,2% ke 123,56.
Selain dari Fed, fokus tetap pada harga komoditas, yang berdampak pada mata uang. Dampak dari rendahnya harga komoditas telah dirasakan oleh mata uang eksportir komoditas, seperti Kanada, Australia dan Norwegia. Tapi mata uang importir komoditas, seperti yen diperkirakan juga merasakan efeknya.
Dolar Australia berjuang dari posisi terendah enam tahun terhadap USD. Dolar Australia pada akhir pekan lalu berada di 0,7260/USD, terendah sejak Mei 2009. Sementara dolar Selandia Baru naik 0,3% menjadi 0,6599/USD.
(Baca: USD Stabil, Rupiah Dibuka Mendatar)
(rna)