Maluku Miliki 25 Blok Migas

Rabu, 05 Agustus 2015 - 02:23 WIB
Maluku Miliki 25 Blok...
Maluku Miliki 25 Blok Migas
A A A
JAKARTA - Provinsi Maluku memiliki 25 blok minyak dan gas (Migas). Sebanyak 15 blok di antaranya dimiliki investor dan 10 blok dalam proses tender untuk mencari investor di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Dengan 25 blok Migas, semestinya Maluku sejahtera dan tidak pantas di posisi empat besar provinsi termiskin di Indonesia. Sekarang bagaimana kekayaan besar itu berguna untuk kesejahteraan Maluku yang masuk provinsi termiskin," jelas praktisi Migas Boetje HP Balthazar di Jakarta, Selasa (4/8/2015).

Menurutnya, dari ke-25 blok itu, Blok Masela dengan cadangan gas abadi memiliki jangka waktu produksi komersil 30 tahun. Begitu juga candangan gas besar ada di Blok Babar Selaru. Saat ini, perusahaan Migas rakasasa dunia yang masuk ke Maluku, yakni Inpex dari Jepang, Shell BV dari Belanda dan Stat Oil dari Norwegia.

Boetje menyebut potensi Migas luar biasa di Maluku yakni selain Blok Masela, Blok Babar Selaru, juga ada Blok Pulau Moa Selatan, dan Blok Roma. Blok itu berada di laut dalam dan berbatasan dengan negara lain. Untuk itu, perlu perhatian penuh sehingga tidak terjadi negara lain mengambil migas di wilayah Indonesia.

Boetje mengatakan, potensi sumber migas di Maluku sudah lama diketahui para pemain di bidang minyak dan gas. Buktinya, ada perusahaan raksasa yang menguasai 100% beberapa blok di Maluku. "Ini tidak mungkin terjadi, kalau tidak memiliki data yang sangat-sangat valid," tegasnya.

Direktur Archipelago Solidarity Foundation Engelina Pattiasina mengatakan, dengan kekayaan seperti itu, pemerintah dan masyarakat Maluku harus memastikan kekayaan itu memiliki dampak nyata untuk kesejahteraan rakyat Maluku. Tidak boleh terjadi, rakyat pemilik kekayaan alam hidup miskin di atas sumber daya alam yang melimpah.

"Dimana-mana, daerah kaya selalu dilanda konflik. Coba dicek saja di berbagai dunia. Kita harus menyadari hal ini," ujarnya.

Menurut lulusan Ekonomi Politik dari Jerman ini, Maluku akan tetap tertinggal dan miskin jika tidak memiliki pemicu pertumbuhan. Untuk itu, sumber daya alam yang ada harus menjadi pemicu utama perkembangan ekonomi.

"Kalau ada pemicunya, maka pertumbuhan ekonomi akan sangat cepat. Maluku saat ini harus menjadikan Migas sebagai pemicu utama ekonomi," kata dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
10 Produsen Migas Terbesar...
10 Produsen Migas Terbesar yang Berada di Indonesia
Urgensi Revisi UU Migas...
Urgensi Revisi UU Migas No. 22/2001: Langkah Strategis Menuju Ketahanan Energi Nasional
Realisasi Produksi Migas...
Realisasi Produksi Migas PHE ONWJ
SKK Migas Gelar Supply...
SKK Migas Gelar Supply Chain & National Capacity Summit 2024
ENRG Tegaskan Komitmen...
ENRG Tegaskan Komitmen Transparansi, Kinerja Investasi, dan Prospek Bisnis Berkelanjutan
28 Kesepakatan Migas...
28 Kesepakatan Migas Berpotensi Datangkan Penerimaan Rp35 Triliun
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
4 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
4 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
6 jam yang lalu
Infografis
25 Negara Paling Dermawan,...
25 Negara Paling Dermawan, Indonesia Peringkat Berapa?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved