Hilirisasi Industri Diperkuat

Selasa, 18 Agustus 2015 - 09:24 WIB
Hilirisasi Industri...
Hilirisasi Industri Diperkuat
A A A
JAKARTA - Pemerintah akan memperkuat hilirisasi industri dalam negeri. Langkah ini dilakukan guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri. Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Syarief Hidayat mengakui, selama 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia industri dalam negeri memang masih bergantung impor.

Namun, ketergantungan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan setiap negara. ”Sebetulnya begini, kalau ketergantungan dari luar negeri, tidak ada satu negara pun yang tidak tergantung. Semua saling mengisi,” ungkap Syarief di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah namun selama ini hanya dijual secara mentah. Untuk itu, pemerintah bertekad agar bahan mentah yang ada di dalam negeri bisa untuk memasok industri dalam negeri.

”Dulu kan bauksit kita ekspor, diolah. Nanti kita akan olah di sini menjadi alumina kemudian menjadi aluminium. Aluminium akan kita olah menjadi yang bahan akhir,” ujarnya. Syarief melanjutkan, pemerintah ingin menjadikan sumber daya alam serta minyak dan gas (migas) sebagai modal pembangunan. Strategi itu diharapkan menguntungkan dalam jangka panjang.

”Memang awalnya kita investasi tapi jangka panjang akan dapat banyak sekali,” jelasnya. Syarief mengungkapkan, terkait energi untuk kebutuhan industri, Kementerian Perindustrian sudah berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sementara, Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk mencapai target pertumbuhan industri di kisaran 6,3-6,8% hingga akhir tahun ini. Salah satu caranya adalah berkoordinasi lintas sektoral, lintas kementerian dan pelaku usaha, sehingga kebijakan yang diambil sesuai dengan keinginan pemerintah. ”Walau ekonomi turun, investasi di industri naik cukup besar.

Ini ada harapan positif bahwa ke depan ekonomi kita akan lebih baik,” ujarnya. Saleh menambahkan, adanya devaluasi mata uang yuan memang berdampak ke Indonesia. Hanya, hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga ke negara lain.

Oktiani endarwati
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Mendorong Penerapan...
Mendorong Penerapan Ekonomi Sirkular di Industri Sawit
14 menit yang lalu
Marketing CoE Danantara,...
Marketing CoE Danantara, Jasa Marga Jadi Mentor Pengelolaan Command Center
1 jam yang lalu
Kilau Emas Kembali Lagi...
Kilau Emas Kembali Lagi usai Menguat Rp8 Ribu, Buyback Naik Rp16.000 per Gram
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Sumbagut: Antrean BBM di SPBU Mulai Terurai
2 jam yang lalu
Hutan Gundul, Cadangan...
Hutan Gundul, Cadangan Devisa Menguap! Mantan Menkeu Bongkar Patgulipat Ekspor Tambang
3 jam yang lalu
Dari Medan hingga Jakarta,...
Dari Medan hingga Jakarta, Keseruan Nobar Piala Dunia 2026 Bersama BRI Satukan Kita!
4 jam yang lalu
Infografis
Tanpa Uranium Rusia,...
Tanpa Uranium Rusia, Industri Nuklir AS Bisa Gagal Total
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved