Rupiah Dibuka Tertekan Penguatan USD
Rabu, 19 Agustus 2015 - 10:20 WIB
Rupiah Dibuka Tertekan Penguatan USD
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ketiga pekan ini dibuka tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (USD).
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg di level Rp13.822/USD. Posisi tersebut memburuk 22 poin dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp13.800/USD.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp13.817/USD. Posisi ini melemah 29 poin dibanding posisi penutupan sebelumnya di level Rp13.788/USD.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas pada level Rp13.773/USD. Posisi ini menguat 20 poin dibanding dengan penutupan sebelumnya di level Rp13.793/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.824/USD, menguat 7 poin dari posisi akhir pekan lalu di level Rp13.831/USD.
USD naik terhadap euro pada Selasa waktu setempat didukung data perumahan AS mulai mendekati rekor delapan tahun, yang didukung ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada bulan depan.
Dikutip dari Reuters, penurunan 6% pada saham China kemarin mendorong banyak investor beralih ke mata uang safe haven, seperti yen dan franc Swiss, yang naik terhadap USD. Sementara poundsterling ke level tertingg tujuh pekan ke 1,5717 terhadap USD.
(Baca: Rupiah Berpotensi Kembali Terdepresiasi)
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg di level Rp13.822/USD. Posisi tersebut memburuk 22 poin dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp13.800/USD.
Berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp13.817/USD. Posisi ini melemah 29 poin dibanding posisi penutupan sebelumnya di level Rp13.788/USD.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas pada level Rp13.773/USD. Posisi ini menguat 20 poin dibanding dengan penutupan sebelumnya di level Rp13.793/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.824/USD, menguat 7 poin dari posisi akhir pekan lalu di level Rp13.831/USD.
USD naik terhadap euro pada Selasa waktu setempat didukung data perumahan AS mulai mendekati rekor delapan tahun, yang didukung ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada bulan depan.
Dikutip dari Reuters, penurunan 6% pada saham China kemarin mendorong banyak investor beralih ke mata uang safe haven, seperti yen dan franc Swiss, yang naik terhadap USD. Sementara poundsterling ke level tertingg tujuh pekan ke 1,5717 terhadap USD.
(Baca: Rupiah Berpotensi Kembali Terdepresiasi)
(rna)