Defisit Perdagangan Jepang Semakin Melebar

Rabu, 19 Agustus 2015 - 10:55 WIB
Defisit Perdagangan...
Defisit Perdagangan Jepang Semakin Melebar
A A A
TOKYO - Defisit perdagangan Jepang Juli melebar ke level terbesar dalam lima bulan, karena ekspor melambat berkat goyahnya permintaan di China dan pasar-pasar utama lainnya, dan impor turun kurang dari perkiraan.

Defisit perdagangan Jepang Juli sebesar 268,1 miliar yen atau sekitar USD2,2 miliar dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 70,5 miliar yen atau sekitar USD566 juta. Ekspor naik 7,6% dari tahun sebelumnya menjadi 6,7 triliun yen (USD53,5 miliar), sedangkan impor turun 3,2% menjadi 6,9 triliun yen (USD55,7 miliar).

Seperti dikutip dari AP, Rabu (19/8/2015), biaya yang lebih rendah untuk impor minyak dan gas telah mengurangi defisit perdagangan Jepang dalam beberapa bulan terakhir, dan defisit pada Juli sebesar 72% lebih rendah dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya.

Namun, impor tidak jatuh banyak seperti yang diharapkan, dengan kelemahan dalam yen melawan tren itu. Langkah terakhir China untuk mendevaluasi yuan membuat harga produk sendiri lebih kompetitif di pasar luar negeri, memiliki kegelisahan memperdalam atas prospek perdagangan.

Semua eksportir Asia melihat melemahnya ekspor, ditekankan pada melambatnya permintaan China, Mizuho Bank mencatat dalam sebuah catatan penelitian.

"Eksportir komoditi adalah paling parah diberikan China dalam komoditas, tetapi ada juga sedikit keraguan bahwa eksportir manufaktur Asia juga bernasib buruk, bahkan dalam menghadapi pemulihan AS," katanya.

Pada saat yang sama, AS mengimpor lebih sedikit dari masa lalu sebagai konsumen mengencangkan ikat pinggang mereka di era yang lebih besar dalam disiplin fiskal. "Karena itu, di tengah-tengah permintaan AS yang kuat sekarang, ekspor elektronik dari Asia belum mampu merekam keuntungan, terlihat pada periode pra-2007," tambahnya.

Ekspor Jepang ke China naik 4,2% dari tahun sebelumnya, sementara pengiriman ke AS melonjak 18,8%, dibantu oleh lonjakan 41% di ekspor kendaraan dan suku cadang.

Impor dari Timur Tengah turun 40,5%, nilai impor minyak, gas dan bahan bakar lainnya turun sekitar sepertiga. Tapi ekonom telah memperkirakan penurunan yang lebih besar.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dalam Sekejap, 1.000...
Dalam Sekejap, 1.000 Lebih Perusahaan di Jepang Bangkrut
Dampak Inflasi Global...
Dampak Inflasi Global Merembes ke Ekonomi Jepang, Investor Cemas
Resesi, Jepang Tak Lagi...
Resesi, Jepang Tak Lagi Jadi Negara Ekonomi Terbesar Ketiga di Dunia
Ekonomi Tumbang, Jepang...
Ekonomi Tumbang, Jepang Pesimistis Pemulihan Bakal Berjalan Cepat
Terjun ke Jurang Resesi,...
Terjun ke Jurang Resesi, Aktivitas Pabrik di Jepang Semakin Memburuk
Inflasi Jepang Tembus...
Inflasi Jepang Tembus 4%, Pecah Rekor Pertama Sejak 1981
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
37 menit yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
45 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
1 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
2 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
3 jam yang lalu
Infografis
8 Negara yang Warganya...
8 Negara yang Warganya Paling Kurus di Dunia, Salah Satunya Jepang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved