Pemerintah Belum Sesuaikan Kontrak atas Pelemahan Rupiah
Kamis, 27 Agustus 2015 - 02:30 WIB
Pemerintah Belum Sesuaikan Kontrak atas Pelemahan Rupiah
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan, belum ada penyesuaian kontrak berjalan terkait pelemahan (depresiasi) rupiah terhadap dolar AS (USD).
Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono mengatakan, pihaknya masih menunggu masukan-masukan berbagai pihak baik dari Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi Nasional maupun kalangan usaha, seperti Gabungan Pengusaha Konstrusi Nasional.
“Sampai sekarang belum ada surat maupun komplain yang masuk ke kami (Kementerian PUPR). Saya akan tunggu. Eskalasi penyesuaian harga itu harus memenuhi syarat bersama sehingga dikatakan kondisi force majeur atau kondisi kahar (luar biasa),” ujarnya di Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Menurut Basuki, kondisi force majeur atau kondisi kahar ditetapkan melalui sidang kabinet dan melalui perpres berdasarkan pertimbangan ekonomi dan keuangan dari kementerian Keuangan. “Analisanya melalui pertimbangan ekonomi dan keuangan. Tentu desakan-desakan pengusaha kontruksi juga akan menjadi pertimbangan. Itu pasti triggernya juga,” jelasnya.
Basuki mengatakan, proyek-proyek kontruksi yang ditangani di Kementerian yang dipimpinnya belum banyak mengandung komponen impor. Dia memisalkan untuk kebutuhan besi masih bisa dipasok dari dalam negeri, begitu juga dengan kebutuhan material seperti semen maupun pasir.
“Masih sedikit yang memiliki kandungan impor. Sementara aspal itu presentase penggunaannya sekitar 5%. Kita di dalam negeri masih bisa memasok kebutuhan 600 ribu ton dari total kebutuhan 1,2 juta per tahun,” paparnya.
Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Hediyanto Husaini, mengatakan, kalangan usaha yang mengimpor semen diakuinya mengikuti perkembangan harga kurs rupiah terhadap dolar. “Kalau dulu belinya itu masih di kisaran Rp11.000. Tapi kalau beli sekarang kemungkinan mengikuti perkembangan kurs yang ada saat ini,” ujarnya.
Menurut Hediyanto, kemungkinan kalangan usaha kontruksi jalan masih memiliki stok semen. “Kalau belinya dulu pasti di angka segitu (Rp11.000). Tapi kalau belinya sekarang, ya pasti akan mengikuti kurs. Kan ada yang di-hedge, artinya pesan dulu atau bayar uang mukanya dulu. Baru dideliver setelah mau bekerja,” tandasnya.
Baca juga:
Rupiah Ambruk, Sektor Industri Makin Tertekan
Rupiah Berakhir Makin Nelangsa karena Aksi Jual
Dampak Nyata Pelemahan Rupiah Harga-harga Naik
Rupiah Ambruk, 60.000 Pekerja Tekstil Terkena PHK
Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono mengatakan, pihaknya masih menunggu masukan-masukan berbagai pihak baik dari Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi Nasional maupun kalangan usaha, seperti Gabungan Pengusaha Konstrusi Nasional.
“Sampai sekarang belum ada surat maupun komplain yang masuk ke kami (Kementerian PUPR). Saya akan tunggu. Eskalasi penyesuaian harga itu harus memenuhi syarat bersama sehingga dikatakan kondisi force majeur atau kondisi kahar (luar biasa),” ujarnya di Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Menurut Basuki, kondisi force majeur atau kondisi kahar ditetapkan melalui sidang kabinet dan melalui perpres berdasarkan pertimbangan ekonomi dan keuangan dari kementerian Keuangan. “Analisanya melalui pertimbangan ekonomi dan keuangan. Tentu desakan-desakan pengusaha kontruksi juga akan menjadi pertimbangan. Itu pasti triggernya juga,” jelasnya.
Basuki mengatakan, proyek-proyek kontruksi yang ditangani di Kementerian yang dipimpinnya belum banyak mengandung komponen impor. Dia memisalkan untuk kebutuhan besi masih bisa dipasok dari dalam negeri, begitu juga dengan kebutuhan material seperti semen maupun pasir.
“Masih sedikit yang memiliki kandungan impor. Sementara aspal itu presentase penggunaannya sekitar 5%. Kita di dalam negeri masih bisa memasok kebutuhan 600 ribu ton dari total kebutuhan 1,2 juta per tahun,” paparnya.
Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Hediyanto Husaini, mengatakan, kalangan usaha yang mengimpor semen diakuinya mengikuti perkembangan harga kurs rupiah terhadap dolar. “Kalau dulu belinya itu masih di kisaran Rp11.000. Tapi kalau beli sekarang kemungkinan mengikuti perkembangan kurs yang ada saat ini,” ujarnya.
Menurut Hediyanto, kemungkinan kalangan usaha kontruksi jalan masih memiliki stok semen. “Kalau belinya dulu pasti di angka segitu (Rp11.000). Tapi kalau belinya sekarang, ya pasti akan mengikuti kurs. Kan ada yang di-hedge, artinya pesan dulu atau bayar uang mukanya dulu. Baru dideliver setelah mau bekerja,” tandasnya.
Baca juga:
Rupiah Ambruk, Sektor Industri Makin Tertekan
Rupiah Berakhir Makin Nelangsa karena Aksi Jual
Dampak Nyata Pelemahan Rupiah Harga-harga Naik
Rupiah Ambruk, 60.000 Pekerja Tekstil Terkena PHK
(dmd)
Lihat Juga :