Rupiah Ambruk akibat Salah Strategi Perdagangan

Senin, 31 Agustus 2015 - 00:38 WIB
Rupiah Ambruk akibat...
Rupiah Ambruk akibat Salah Strategi Perdagangan
A A A
JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap terhadap dolar AS (USD) dinilai sebagai dampak dari kekeliruan strategi perdagangan internasional Indonesia. Positioning Indonesia dalam perdagangan internasional masih lemah.

Chief Research Officer PT Rifan Financindo Berjangka, Tumpal Sihombing mengatakan, dalam index term of trade, kemampuan Indonesia berada di bawah level 100 dalam tiga tahun terakhir. Terms of Trade (TOT atau ketentuan perdagangan) adalah indeks dari harga ekspor suatu negara dari segi impor.

Ketentuan perdagangan dikatakan membaik jika indeks yang naik. Jika ketentuan perdagangan suatu negara kurang dari 100, ada lebih banyak modal keluar (untuk membeli impor) daripada jumlah yang masuk.

“Pelemahan ini karena dampak sektor riil dan rasio ekspor impor. Semua perekonomian negara di dunia ini, kalau indeks perdagangannya di bawah 100 maka currency pasti melemah, itu hukum ekonomi, makanya jangan heran bila rupiah terdepresiasi. Artinya rupiah kita dianggap murah,” ujar Tumpal.

Selama ini, ada salah kaprah dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi dari sektor manufaktur dan konstruksi. Padahal, Indonesia dipastikan sulit bersaing dengan Jepang atau Korea Selatan yang memang sangat kuat di sektor tersebut. Terlihat dari kontribusi sektor manufaktur yang mencapai 48% pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

“Dengan begitu otomatis impor konten sangat besar, ini membuat kita sangat tergantung dengan kondisi eksternal yang pada akhirnya menekan rupiah,” jelasnya.

Menurut Tumpal, kondisi ini membawa dampak lebih luas, saat kondisi eksternal bergolak. Dampaknya akan sangat besar bagi perekonomian dalam negeri. Untuk meningkatkan TOT dia meminta pemerintah meredefinisi kebijakannya untuk fokus dan memperkuat sektor agribisnis, yang memang merupakan kompetensi dan kekayaan Indonesia.

Sebagai negara agraris, kontribusi sektor agribisnis sumbangsihnya terhadap PDB masih kurang dari 20%. Menurutnya bila kontribusi agribisnis digenjot hingga di atas 25% maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih kencang dan mampu menahan gejolak ekonomi global.

“Porsi terbesar penyumbang PDB yang menjadi skema dari perhitungan output kita harus diubah prioritasnya dari yang sebelumnya manufaktur menjadi noncapital intensif, yakni agribisnis," tambahnya.

Salah satu langkah memperkuat sektor agribisnis yaitu memberikan perhatian lebih serius terhadap keberadaan bursa berjangka. Ini penting dalam pembentukan harga jual komoditas di pasar dunia. “Prinsipnya dimana harga terbentuk maka di situ pasar akan bertumbuh,” kata Tumpal.

Selama ini sebagai penghasil komoditas Indonesia tidak hanya sebatas pekerja, sementara para spekulan seenaknya menentukan harga negaranya, seperti kopi, karet, crude palm oil yang harga acuannya ditentukan di bursa luar seperti Rotterdam atau Malaysia. “Jadi acuan harga harus ditentukan di Indonesia agar menjadi perhatian investor,” ujarnya.

Kini, pemerintah sangat fokus dalam pengembangan ranah infrastruktur di sisi distribusi. Hal itu baik namun baru mencakup sepertiga saja dari total elemen dalam sistem perekonomian (produksi, distribusi, konsumsi). Memang industri komoditas nusantara membutuhkan pengembangan baik di fasa produksi maupun fasa distribusi, dalam hal ini ranah infrastruktur.

Namun, dinamika pasar fisik komoditas nusantara sebenarnya lebih bisa terpicu dengan adanya pengembangan nyata di produksi (supply-side) dan konsumsi(demand-side), sebagai wadah pembentukan harga pasar komoditas. Sebagai ilustrasi, kopi adalah salah satu komoditas dimana Indonesia adalah produsen ke-3 terbesar dunia, terbesar untuk robusta.

Sayangnya, PDM komoditas kopi belum sepenuhnya mengacu pada referensi harga Nusantara. Lampung menjadi referensi harga spot robusta, sementara futures-nya masih mengacu ke London. Untuk kopi arabica, Medan menjadi acuan spot, New York untuk futures.

Baca juga:

Rupiah Melemah, BI Harus Awasi Ketat Transaksi Valas

Kuatkan Rupiah, Pemerintah Fokus Pasar Valas dan SBN
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Neraca Perdagangan Surplus,...
Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Berpotensi Menguat
Surplus Perdagangan...
Surplus Perdagangan USD2,59 Miliar Belum Ngaruh ke Rupiah
Neraca Dagang Surplus...
Neraca Dagang Surplus Bantu Ketahanan Ekonomi dan Rupiah
Perdagangan Awal Bulan,...
Perdagangan Awal Bulan, IHSG Ditutup Melemah
Rupiah Jadi Alat Transaksi...
Rupiah Jadi Alat Transaksi Perdagangan Internasional Harus Didukung
Mata Uang Garuda Diprediksi...
Mata Uang Garuda Diprediksi Melemah pada Perdagangan Lusa
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
7 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
8 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
8 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
9 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
9 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
9 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved