USD Naik, Konsumsi Produk Impor Harus Dikurangi

Senin, 31 Agustus 2015 - 11:09 WIB
USD Naik, Konsumsi Produk...
USD Naik, Konsumsi Produk Impor Harus Dikurangi
A A A
DEPOK - Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengajak seluruh warga untuk tidak mengonsumsi dan menggunakan produk impor. Salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah, yakni mengontrol pembelanjaan APBD dari biaya pembelian produk impor.

"Jangan makan barang impor terlalu banyak itu paling penting, jangan gunakan barang impor terlalu banyak. Tingkatkan kapasitas dan produktivitas produk-produk dalam negeri. Pembelanjaan APBN dan APBD kebijakan konten dalam negeri, dipantau presiden," tegasnya di Balaikota Depok, Senin (31/8/2015).

Seperti diketahui, saat ini para perajin tahu dan tempe terpukul dengan kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah. Hal itu berpengaruh pada harga kedelai impor.

Dia meminta agar seluruh pemerintah daerah sebaiknya memperhatikan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dalam setiap pembelanjaan. Ahli Teknologi Pangan dari A&M Texas University ini juga mengkritik pemerintah selama ini belum menggalakkan gerakan menanam kedelai.

"Stok dalam negeri kedelai tak cukup harus tetap impor, yang penting ada niat untuk itu, selama ini saya enggak lihat ada gerakan nanam kedelai," tukasnya.

Pihaknya mendukung gerakan perajin tahu tempe untuk lebih menggunakan kedelai lokal. "Kedelai lokal sejak dulu harus begitu, apresiasi produk lokal. Kualitas tidak bisa dibanding-bandingkan karbohidrat tak sama dengan beras padi, kedelai untuk tempe cari yang rasanya bisa dipakai untuk kecap, tempe juga bagus, dan lainnya," tutur Nur Mahmudi.

Pihaknya juga mengajak seluruh industri dalam negeri tetap meningkatkan kapasitas produksi di tengah tekanan dolar. "Kalau industri sebaiknya tingkatkan kapasitas produksi. Orientasinya ekspor bagus juga, tapi jangan berdoa dolar terus tinggi," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
22 menit yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
40 menit yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
1 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
2 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
2 jam yang lalu
Heboh Sell Indonesia...
Heboh 'Sell Indonesia' saat Rupiah-IHSG Terpuruk, Muncul Sosok Lama Bikin Kepercayaan Runtuh
2 jam yang lalu
Infografis
Jadwal MotoGP Mandalika...
Jadwal MotoGP Mandalika 2025, Mampukah Marc Marquez Naik Podium?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved