BI dan IMF: Masalah Pembangunan Infrastruktur Pembiayaan

Kamis, 03 September 2015 - 05:37 WIB
BI dan IMF: Masalah...
BI dan IMF: Masalah Pembangunan Infrastruktur Pembiayaan
A A A
Bank Indonesia (BI) dan Dana Moneter Internasional (IMF) sepakat pembiayaan infrastruktur dapat mengatasi masalah pembangunan. Namun, permasalahan utama dalam pembangunan di tengah gejolak ekonomi seperti sekarang adalah pembiayaan.

"Bagi kawasan Asia, pembangunan infrastruktur dianggap sebagai salah satu kunci peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Sebab itu, upaya mencari jalan dan bentuk pembiayaan tersebut menjadi penting," kata Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo di Gedung BI, Rabu (2/9/2015).

Dia juga menegaskan keseriusan pemerintah dalam membangun infrastruktur dan konektivitas antar daerah. Tentunya hal ini membutuhkan pembiayaan yang besar, yang telah diupayakan melalui berbagai langkah, antara lain pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sehingga memberi ruang fiskal yang cukup, hingga kerja sama dalam skema private public partnership (PPP).

Di sisi lain, Agus mengakui bahwa salah satu bentuk tantangan perekonomian adalah sulitnya mendapatkan dana guna mengatasi celah pembiayaan infrastruktur (infrastructure gap).

Selain itu, peran pendalaman pasar keuangan (financial deepening) dan inklusi keuangan (financial inclusion) juga penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih luas dan inklusif. "Konferensi hari ini diharapkan dapat memberi masukan, kontribusi, dan solusi, atas berbagai masalah tersebut," kata Agus.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde memberikan apresiasi kepada Indonesia atas upayanya menjaga stabilitas perekonomian dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Dia mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara, sehingga tidak bisa disamakan.

Namun secara garis besar, ada lima hal yang perlu tetap dijaga dalam kondisi saat ini; Pertama, memperkuat baris pertahanan pemerintah melalui kebijakan fiskal; Kedua, mengendalikan pertumbuhan kredit agar tidak terlalu berlebihan; Ketiga, menjaga fluktuasi nilai tukar; Keempat, menjaga kecukupan cadangan devisa; dan Kelima, membangun pengawasan dan pengaturan sektor keuangan yang solid.

"Untuk itu, saya mengingatkan pentingnya pemerintah di setiap negara berpegang pada 4-I, yaitu inovasi, integrasi, infrastruktur, dan inklusifitas," tutupnya.

Baca juga:

Ini Saran Bos IMF untuk Dongkrak Ekonomi Indonesia

IMF: RI Siap Hadapi Gejolak Ekonomi

Ini Bocoran Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi Jilid II
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
58 menit yang lalu
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
1 jam yang lalu
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
1 jam yang lalu
BRIN Apresiasi Program...
BRIN Apresiasi Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
3 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved