Menkeu Kembali Sebut Rupiah Ambruk Tertekan Sentimen Global
Senin, 07 September 2015 - 23:08 WIB
Menkeu Kembali Sebut Rupiah Ambruk Tertekan Sentimen Global
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro merespon pelemahan mata uang rupiah hari ini yang melampaui level Rp14.250/USD. Dia kembali menyoroti sentimen regional global, salah satunya terkait isu kenaikan suku bunga The Fed Amerika Serikat yang menyebabkan rupiah ambruk.
Situasi ini juga membuat negara lain ketar-ketir terhadap kondisi ekonomi domestik mereka. Selain isu kenaikan Fed Rate, posisi USD makin strong karena banyak negara khususnya Indonesia bertransaksi menggunakan USD. Kondisi tersebut menjadi pemicu utama pelemahan rupiah awal pekan ini.
"Kalau saya lihat, memang sepertinya ada unsur sentimen regional global. Saya belum cek benar ya. Artinya waktu di Turki pun kemarin acara G20, saya lihat reaksi pasar juga kurang bagus," ujar Menkeu Bambang di Jakarta, Senin (7/9/2015).
Kondisi ini, juga menekan negara-negara anggota G20. Menurut Bambang, saat ini kondisi negara-negara berkembang, bahkan negara maju sangat tertekan dengan kekuatan Negeri Paman Sam.
"Mood mereka (negara-negara G20) sedang tidak bagus. Tidak ada harapan baik untuk negara-negara tersebut di tahun ini dalam perkembangan ekonomi negaranya. Terlebih, komoditas mereka tidak sebaik ketika berada pada 2011, sulit untuk bersaing," katanya.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup makin memburuk melewati Rp14.250/USD tertekan sentimen global.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg pada level Rp14.266/USD. Posisi tersebut merosot 94 poin dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp14.172/USD.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada pada level Rp14.257/USD. Posisi itu terdepresiasi 59 poin dari posisi penutupan kemarin di level Rp14.198/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp14.234/USD, melemah poin dari posisi sebelumnya di level Rp14.178/USD.
Sementara data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.123/USD, dengan kisaran harian Rp14.109-Rp14.357USD. Posisi ini menguat 52 poin dibanding posisi penutupan sebelumnya di level Rp14.175/USD.
Sementara USD mendatar pasca rilis data tenaga kerja Agustus yang di bawah harapan, sehingga gagal membawa banyak kejelasan mengenai waktu kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) untuk kali pertama sejak 2006.
Dikutip dari Reuters, USD menguat tipis 0,2% terhadap yen menjadi 119,30. Sementara euro terhadap USD naik 0,1% ke 1,1153/USD. Euro telah turun di bawah 1,11/USD pada hari ini setelah data pekerjaan AS dirilis pada akhir pekan lalu.
Baca juga:
Banyak Kegaduhan, Jokowi Diminta Fokus pada Rupiah
Rupiah Jatuh ke Rp14.250/USD karena Sentimen AS
Situasi ini juga membuat negara lain ketar-ketir terhadap kondisi ekonomi domestik mereka. Selain isu kenaikan Fed Rate, posisi USD makin strong karena banyak negara khususnya Indonesia bertransaksi menggunakan USD. Kondisi tersebut menjadi pemicu utama pelemahan rupiah awal pekan ini.
"Kalau saya lihat, memang sepertinya ada unsur sentimen regional global. Saya belum cek benar ya. Artinya waktu di Turki pun kemarin acara G20, saya lihat reaksi pasar juga kurang bagus," ujar Menkeu Bambang di Jakarta, Senin (7/9/2015).
Kondisi ini, juga menekan negara-negara anggota G20. Menurut Bambang, saat ini kondisi negara-negara berkembang, bahkan negara maju sangat tertekan dengan kekuatan Negeri Paman Sam.
"Mood mereka (negara-negara G20) sedang tidak bagus. Tidak ada harapan baik untuk negara-negara tersebut di tahun ini dalam perkembangan ekonomi negaranya. Terlebih, komoditas mereka tidak sebaik ketika berada pada 2011, sulit untuk bersaing," katanya.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup makin memburuk melewati Rp14.250/USD tertekan sentimen global.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg pada level Rp14.266/USD. Posisi tersebut merosot 94 poin dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp14.172/USD.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada pada level Rp14.257/USD. Posisi itu terdepresiasi 59 poin dari posisi penutupan kemarin di level Rp14.198/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp14.234/USD, melemah poin dari posisi sebelumnya di level Rp14.178/USD.
Sementara data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.123/USD, dengan kisaran harian Rp14.109-Rp14.357USD. Posisi ini menguat 52 poin dibanding posisi penutupan sebelumnya di level Rp14.175/USD.
Sementara USD mendatar pasca rilis data tenaga kerja Agustus yang di bawah harapan, sehingga gagal membawa banyak kejelasan mengenai waktu kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) untuk kali pertama sejak 2006.
Dikutip dari Reuters, USD menguat tipis 0,2% terhadap yen menjadi 119,30. Sementara euro terhadap USD naik 0,1% ke 1,1153/USD. Euro telah turun di bawah 1,11/USD pada hari ini setelah data pekerjaan AS dirilis pada akhir pekan lalu.
Baca juga:
Banyak Kegaduhan, Jokowi Diminta Fokus pada Rupiah
Rupiah Jatuh ke Rp14.250/USD karena Sentimen AS
(dmd)