Euro Gilas USD, Rupiah Ditutup Terdepresiasi Tipis
Senin, 14 September 2015 - 17:06 WIB
Euro Gilas USD, Rupiah Ditutup Terdepresiasi Tipis
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini ditutup terdepresiasi tipis di tengah menguatnya euro terhadap USD.
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada pada level Rp14.339/USD. Posisi itu melemah 13 poin dibanding posisi penutupan akhir pekan lalu di level Rp14.326/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg pada level Rp14.333/USD. Posisi tersebut terdepresiasi 11 poin dibanding dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp14.322/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp14.322/USD, melemah 16 poin dari posisi sebelumnya di level Rp14.306/USD.
Data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.336/USD, dengan kisaran harian Rp14.152-Rp14.350/USD. Posisi ini melemah 104 poin dibanding posisi penutupan sebelumnya di level Rp14.232/USD.
Sementara USD mencapai level rendah hampir tiga pekan terhadap sejumlah mata uang utama menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan ini karena investor bertaruh suku bunga akan tetap di rekor terendah hingga Desember 2015.
Euro naik 0,3% ke level tertinggi 2,5 pekan menjadi 1,1373/USD, menambah kenaikan 1,8% pada pekan lalu dan menandai kenaikan untuk hari ketujuh terhadap USD secara berturut-turut, kenaikan harian terbaik selama sembilan bulan.
Indeks USD jatuh ke 94,913, terlemah sejak 26 Agustus 2015 karena investor memangkas posisi pada mata uang menjelang pertemuan dua hari The Fed, mulai Rabu.
Data mengecewakan dari China menambah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Pertumbuhan investasi dan produksi pabrik di bawah perkiraan, meningkatkan risiko bahwa pertumbuhan China dapat di bawah 7% pada kuartal III untuk kali pertama sejak krisis keuangan global.
"Jika China melambat secara agresif maka Anda memiliki situasi di mana The Fed mungkin mempertimbangkan kembali menaikkan suku bunga," kata ahli strategi valuta asing dari Bank of New York Mellon Neil Mellor, seperti dilansir dari Reuters, Senin (14/9/2015).
USD melemah 0,3% terhadap yen di 120,20. Sementara menjelang Fed, Bank of Japan akan mengadakan pertemuan kebijakan pada Senin dan Selasa. Sumber mengatakan kepada Reuters bahwa tidak akan ada pelonggaran moneter lebih lanjut pada pekan ini.
Baca:
USD Koreksi, Rupiah Siang Ini Balik Arah Menguat
Yen Menguat terhadap USD, Rupiah Dibuka Merosot
Posisi rupiah berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas berada pada level Rp14.339/USD. Posisi itu melemah 13 poin dibanding posisi penutupan akhir pekan lalu di level Rp14.326/USD.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg pada level Rp14.333/USD. Posisi tersebut terdepresiasi 11 poin dibanding dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp14.322/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp14.322/USD, melemah 16 poin dari posisi sebelumnya di level Rp14.306/USD.
Data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.336/USD, dengan kisaran harian Rp14.152-Rp14.350/USD. Posisi ini melemah 104 poin dibanding posisi penutupan sebelumnya di level Rp14.232/USD.
Sementara USD mencapai level rendah hampir tiga pekan terhadap sejumlah mata uang utama menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan ini karena investor bertaruh suku bunga akan tetap di rekor terendah hingga Desember 2015.
Euro naik 0,3% ke level tertinggi 2,5 pekan menjadi 1,1373/USD, menambah kenaikan 1,8% pada pekan lalu dan menandai kenaikan untuk hari ketujuh terhadap USD secara berturut-turut, kenaikan harian terbaik selama sembilan bulan.
Indeks USD jatuh ke 94,913, terlemah sejak 26 Agustus 2015 karena investor memangkas posisi pada mata uang menjelang pertemuan dua hari The Fed, mulai Rabu.
Data mengecewakan dari China menambah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Pertumbuhan investasi dan produksi pabrik di bawah perkiraan, meningkatkan risiko bahwa pertumbuhan China dapat di bawah 7% pada kuartal III untuk kali pertama sejak krisis keuangan global.
"Jika China melambat secara agresif maka Anda memiliki situasi di mana The Fed mungkin mempertimbangkan kembali menaikkan suku bunga," kata ahli strategi valuta asing dari Bank of New York Mellon Neil Mellor, seperti dilansir dari Reuters, Senin (14/9/2015).
USD melemah 0,3% terhadap yen di 120,20. Sementara menjelang Fed, Bank of Japan akan mengadakan pertemuan kebijakan pada Senin dan Selasa. Sumber mengatakan kepada Reuters bahwa tidak akan ada pelonggaran moneter lebih lanjut pada pekan ini.
Baca:
USD Koreksi, Rupiah Siang Ini Balik Arah Menguat
Yen Menguat terhadap USD, Rupiah Dibuka Merosot
(rna)