IHSG Diprediksi Variatif Cenderung Tertekan
Senin, 21 September 2015 - 08:25 WIB
IHSG Diprediksi Variatif Cenderung Tertekan
A
A
A
JAKARTA - Analis Reliance Securities Lanjar Nafi memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini masih akan bergerak variatif (mixed) cenderung tertekan.
"Pergerakan IHSG akan berada pada kisaran 4.300-4.420," ujarnya di Jakarta, Senin (21/9/2015).
Lanjar menyampaikan, sentimen selanjutnya pada pekan ini cukup sepi dan yang menjadi fokus investor adalah survei indeks kinerja sektor manufaktur di seluruh dunia.
Sementara IHSG akhir pekan lalu bergerak cukup bergairah hingga awal sesi kedua, namun ditutup hanya naik tipis 1,93 poin atau sebesar 0,04% di level 4.380,32.
"Pelemahan sektor aneka industri menjadi penekan IHSG pada akhir sesi. Minimnya sentimen positif dari dalam negeri dan ketidakpastian gejolak ekonomi di global setelah The Fed memutuskan untuk menunda kenaikan suku bunga membuat investor melakukan profit taking pada akhir pekan ini," jelas Lanjar.
Permintaan USD pun kian meningkatkan capital outflow dan aksi penyelamatan aset beresiko menjadi salah satu faktor utama depresiasinya rupiah terhadap USD. Investor asing pun kembali mencatatkan net sell sebesar Rp464,03 miliar.
"Pergerakan IHSG akan berada pada kisaran 4.300-4.420," ujarnya di Jakarta, Senin (21/9/2015).
Lanjar menyampaikan, sentimen selanjutnya pada pekan ini cukup sepi dan yang menjadi fokus investor adalah survei indeks kinerja sektor manufaktur di seluruh dunia.
Sementara IHSG akhir pekan lalu bergerak cukup bergairah hingga awal sesi kedua, namun ditutup hanya naik tipis 1,93 poin atau sebesar 0,04% di level 4.380,32.
"Pelemahan sektor aneka industri menjadi penekan IHSG pada akhir sesi. Minimnya sentimen positif dari dalam negeri dan ketidakpastian gejolak ekonomi di global setelah The Fed memutuskan untuk menunda kenaikan suku bunga membuat investor melakukan profit taking pada akhir pekan ini," jelas Lanjar.
Permintaan USD pun kian meningkatkan capital outflow dan aksi penyelamatan aset beresiko menjadi salah satu faktor utama depresiasinya rupiah terhadap USD. Investor asing pun kembali mencatatkan net sell sebesar Rp464,03 miliar.
(rna)
Lihat Juga :