Curhat Buruh Pabrik Garmen setelah Di-PHK

Kamis, 24 September 2015 - 13:00 WIB
Curhat Buruh Pabrik...
Curhat Buruh Pabrik Garmen setelah Di-PHK
A A A
JAKARTA - Ambruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) serta melemahnya roda perekonomian di Indonesia membawa dampak besar terhadap pelaku usaha di Tanah Air, khususnya mereka yang masih mengandalkan bahan baku impor.

Bahkan banyak di antara mereka yang terpaksa gulung tikar lantaran tak sanggup menutupi lagi kerugian karena pendapatan yang kini tak sebanding dengan beban pengeluaran. Akibatnya, para pekerja dan buruh yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

Hal tersebut dirasakan oleh para buruh yang bekerja di PT Bhineka Karya Manunggal (BKM) di Citereup, Bogor. Pabrik kapas pintalan ini gulung tikar dan setidaknya terdapat 700 orang buruh yang terpaksa dirumahkan.

Kepada Sindonews, salah seorang buruh PT BKM yang enggan disebutkan namanya, mengisahkan bahwa dia bersama ratusan buruh lainnya telah di-PHK oleh perusahaan sejak awal September 2015. Perusahaan beralasan, nilai tukar mata uang Garuda yang terus ambruk membuat perusahaan rugi dan tak sanggup menjual produknya.

"Harga USD kan semakin tinggi, jadi enggak kuat jualnya. Harga rupiah enggak nyampe. Kan kalau beli kapas pakai USD," katanya kepada Sindonews di Jakarta, Kamis (24/9/2015).

Menurut pengakuannya, untuk memasok kapas yang diimpor, perusahaan terpaksa berutang dari koperasi karyawan, namun tak sanggup membayarnya. Hingga kini, perusahaan belum mengganti uang koperasi karyawan, yang berasal dari potongan gaji karyawan.

"Gaji mah sudah dibayar, uang koperasi yang tiap bulan dipotong belum dibayar. Itu kan uang kita juga," imbuh dia.

Uang pesangon yang dijanjikan perusahaan pun hingga kini tak jelas kabarnya. Padahal para buruh sudah setuju untuk diberikan uang pesangon sebesar 1 kali PMTK atau mengacu pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang hak buruh dalam proses PHK.

"Pesangon kita mintanya 2 PMTK, tapi perusahaan enggak sanggup, jadinya 1 PMTK. Uang (koperasi) kita saja belum dibayar, apalagi pesangon," keluhnya.

Meski saat ini dirinya telah kembali mendapatkan pekerjaan, namun dia masih tetap menunggu konfirmasi perusahaan atas uang pesangon dan uang koperasi yang belum dibayar.

"Perusahaan tadinya mau bayar cicil selama 60 bulan. Kita enggak terima, makanya sampai sekarang belum ada konfirmasi lagi dari perusahaan," pungkasnya.

Baca:

OJK Ungkap Sudah Ada Bank Lakukan PHK

10 Perusahaan dengan PHK Terbesar dalam Dua Dekade
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kemnaker Catat 18.000...
Kemnaker Catat 18.000 Pekerja Kena PHK di Awal Tahun 2025
Badai PHK Melanda, 26.455...
Badai PHK Melanda, 26.455 Pekerja Terdampak hingga Mei 2025
2024 Baru Mulai, Google...
2024 Baru Mulai, Google Pecat 1.000 Karyawan dari Berbagai Divisi
Teknologi Ini Diklaim...
Teknologi Ini Diklaim Mampu Cegah PHK Massal di Industri Startup
Samsung Gelar PHK Massal,...
Samsung Gelar PHK Massal, 30% Karyawan Global Terancam
Ngamuk Rekannya Kena...
Ngamuk Rekannya Kena PHK, Ratusan Karyawan Google Mogok Kerja
Berita Terkini
Jetex dan Republik Manor...
Jetex dan Republik Manor Sinergi Kembangkan Layanan Aviasi Privat di Indonesia
7 jam yang lalu
Dampingi Presiden Resmikan...
Dampingi Presiden Resmikan Lima Bendungan, AHY: Perkuat Swasembada Pangan, Air dan Energi
7 jam yang lalu
Airlangga Sebut B50...
Airlangga Sebut B50 Bakal Hemat Devisa hingga Rp177 Triliun
8 jam yang lalu
YBM PLN EPI Dorong Pendidikan...
YBM PLN EPI Dorong Pendidikan Lingkungan melalui Wisata Edukasi
8 jam yang lalu
MNC Insurance Sabet...
MNC Insurance Sabet Penghargaan Anugerah Asuransi Indonesia 2026
9 jam yang lalu
Dukung Ketahanan Air...
Dukung Ketahanan Air dan Pangan, Dua Bendungan Garapan Nindya Karya Diresmikan Presiden
9 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved