Rupiah Diproyeksi Masih dalam Tren Turun
Jum'at, 25 September 2015 - 08:44 WIB
Rupiah Diproyeksi Masih dalam Tren Turun
A
A
A
JAKARTA - Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir pekan ini diperkirakan masih dalam tren turun.
"Intervensi pasar oleh BI tidak akan ada gunanya bila tidak ada upaya perbaikan dari sisi pemerintah. Intervensi sesaat hanya akan membuat rupiah menguat sesaat pula, namun tetap dalam pola tren menurun," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (25/9/2015).
Menurut dia, sepanjang belum ada kabar positif maka pelaku pasar akan cenderung menjauhi pasar. Meski demikian, dia menyarankan untuk tetap mewaspadai sentimen di pasar.
Reza memprediksi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia akan berada pada rentang Rp14.600-Rp14.725/USD.
Sementara posisi rupiah kemarin berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp14.623/USD, terkoreksi 137 poin dari posisi sebelumnya di level Rp14.486/USD.
Beberapa hal yang secara tidak langsung mempengaruhi pelemahan laju rupiah antara lain, pernyataan Bank Indonesia (BI) yang memprediksi kondisi ekonomi Indonesia belum akan menunjukkan perbaikan signifikan.
"Ditunjukkan adanya defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)," jelas Reza.
Faktor lain adalah melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia yang berpengaruh pada penurunan arus dana masuk. Lalu, penilaian pemangkasan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2016 menjadi 5,3% dari sebelumnya 5,5%. Lainnya, tekanan dari data manufaktur China yang di luar dugaan turun ke level terendah sejak 2009.
Sementara Gubernur BI sebelumnya menegaskan arus dana masuk atau capital inflow masih dalam tren minim, sehingga transaksi finansial belum menjanjikan. Harapan akan penguatan menjadi berkurang, sehingga membuat rupiah masih di zona merahnya.
"Intervensi pasar oleh BI tidak akan ada gunanya bila tidak ada upaya perbaikan dari sisi pemerintah. Intervensi sesaat hanya akan membuat rupiah menguat sesaat pula, namun tetap dalam pola tren menurun," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Jumat (25/9/2015).
Menurut dia, sepanjang belum ada kabar positif maka pelaku pasar akan cenderung menjauhi pasar. Meski demikian, dia menyarankan untuk tetap mewaspadai sentimen di pasar.
Reza memprediksi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia akan berada pada rentang Rp14.600-Rp14.725/USD.
Sementara posisi rupiah kemarin berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp14.623/USD, terkoreksi 137 poin dari posisi sebelumnya di level Rp14.486/USD.
Beberapa hal yang secara tidak langsung mempengaruhi pelemahan laju rupiah antara lain, pernyataan Bank Indonesia (BI) yang memprediksi kondisi ekonomi Indonesia belum akan menunjukkan perbaikan signifikan.
"Ditunjukkan adanya defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)," jelas Reza.
Faktor lain adalah melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia yang berpengaruh pada penurunan arus dana masuk. Lalu, penilaian pemangkasan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2016 menjadi 5,3% dari sebelumnya 5,5%. Lainnya, tekanan dari data manufaktur China yang di luar dugaan turun ke level terendah sejak 2009.
Sementara Gubernur BI sebelumnya menegaskan arus dana masuk atau capital inflow masih dalam tren minim, sehingga transaksi finansial belum menjanjikan. Harapan akan penguatan menjadi berkurang, sehingga membuat rupiah masih di zona merahnya.
(rna)