Ini Enam Faktor Penyebab Rupiah Semakin Terpuruk
Selasa, 29 September 2015 - 12:56 WIB
Ini Enam Faktor Penyebab Rupiah Semakin Terpuruk
A
A
A
JAKARTA - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengungkapkan, ada beberapa faktor yang memengaruhi rupiah pekan ini semakin melemah hingga tembus Rp14.750/USD.
"Pertama, perkembangan ekspor kita sebagai mesin pencetak devisa tidak dapat dipertahankan minimal pada posisi tetap bertahan. Kondisinya sedang terus menurun sehingga pelaku pasar masih belum percaya bahwa ekspor bisa dipulihkan," katam dia dalam pesan singkatnya di Jakarta, Selasa (29/9/2015).
Saat ini, ekspor produk komoditi sawit, karet, batubara yang turun drastis masih belum ada gantinya dan belum ada solusi dari program darurat yang mengarah ke sana.
"Kedua, karena kepercayaan kurang, sekarang rumah tangga sudah mulai menggeser portofolionya ke mata uang dolar. Daripada rupiah jeblok lebih baik tidak dapat suku bunga tinggi tapi aman pegang valuta dolar. Ini menambah masalah yang tidak seharusnya terjadi. Ini faktor psikologis sebenarnya," imbuh dia.
Ketiga, paket kebijakan sudah sangat terlambat karena krisis nilai tukar sudah terjadi sejak dua tahun terakhir, tepatnya masa akhir pemerintahan Presiden SBY di mana rupiah melemah dari Rp9.000/USD ke Rp12.000/USD.
"Mestinya pemerintah langsung tancap gas membereskan faktor-faktor krisis tersebut, tapi lebih baik jalan meski terlambat. Paket pertama masih dosis sangat ringan dan cair. Misal dana desa harus jalan itu sudah semestinya jalan di APBN, monitoring implementasi proyek-proyek di APB juga sama, program biofuel belum jalan bagus, dan masih banyak lagi," jelas Didik.
Keempat, lanjut dia, Bank Indonesia (BI) yang saat itu lemah, BI sekarang paling tidak berdaya dan tidak memiliki inisiatif kuat untuk menyelesaikan masalah ini. DPR sudah mengkritik dalam krisis seperti sekarang, namun BI malah mengambil untung dalam keadaan krisis.
Kelima, faktor kepemimpinan juga lemah dan terlalu banyak bos di negeri ini sehingga komando kebijakan tidak turun secara efektif. "Di kalangan internal pemerintah masih berkelahi satu sama lain," ucapnya
Keenam, pasar melihat bahwa modal sosial tim pemerintah rendah seperti ditunjukkan dalam perkelahian internal satu sama lain. Satu tim kolektif saling tidak percaya, tidak akan menghasilkan kebijakan efektif.
"Jadi, kesimpulannya, krisis nilai tukar ini sudah terpuruk karena gabungan pengaruh faktor ekonomi (internal dan eksternal) dan juga faktor-faktor non ekonomi, politik, sosial dan psikologis. Kedua ini semakin besar sehingga pemerintah kebobolaan," terangnya.
"Filipina, India dan Vietnam tidak terkena pengaruh eksternal yang dalam. Nilai tukarnya tetap kuat dengan sedikit saja depresiasi. India karena ekspornya kuat dan Filipina karena remittance jasa tenaga kerjanya besar dan tim ekonominya bekerja bagus," tutup Didik.
Baca Juga:
Yen Menguat terhadap USD, Rupiah Dibuka Tertekan
Koreksi Rupiah Mereda Siang Ini Jelang Rilis Paket Ekonomi
"Pertama, perkembangan ekspor kita sebagai mesin pencetak devisa tidak dapat dipertahankan minimal pada posisi tetap bertahan. Kondisinya sedang terus menurun sehingga pelaku pasar masih belum percaya bahwa ekspor bisa dipulihkan," katam dia dalam pesan singkatnya di Jakarta, Selasa (29/9/2015).
Saat ini, ekspor produk komoditi sawit, karet, batubara yang turun drastis masih belum ada gantinya dan belum ada solusi dari program darurat yang mengarah ke sana.
"Kedua, karena kepercayaan kurang, sekarang rumah tangga sudah mulai menggeser portofolionya ke mata uang dolar. Daripada rupiah jeblok lebih baik tidak dapat suku bunga tinggi tapi aman pegang valuta dolar. Ini menambah masalah yang tidak seharusnya terjadi. Ini faktor psikologis sebenarnya," imbuh dia.
Ketiga, paket kebijakan sudah sangat terlambat karena krisis nilai tukar sudah terjadi sejak dua tahun terakhir, tepatnya masa akhir pemerintahan Presiden SBY di mana rupiah melemah dari Rp9.000/USD ke Rp12.000/USD.
"Mestinya pemerintah langsung tancap gas membereskan faktor-faktor krisis tersebut, tapi lebih baik jalan meski terlambat. Paket pertama masih dosis sangat ringan dan cair. Misal dana desa harus jalan itu sudah semestinya jalan di APBN, monitoring implementasi proyek-proyek di APB juga sama, program biofuel belum jalan bagus, dan masih banyak lagi," jelas Didik.
Keempat, lanjut dia, Bank Indonesia (BI) yang saat itu lemah, BI sekarang paling tidak berdaya dan tidak memiliki inisiatif kuat untuk menyelesaikan masalah ini. DPR sudah mengkritik dalam krisis seperti sekarang, namun BI malah mengambil untung dalam keadaan krisis.
Kelima, faktor kepemimpinan juga lemah dan terlalu banyak bos di negeri ini sehingga komando kebijakan tidak turun secara efektif. "Di kalangan internal pemerintah masih berkelahi satu sama lain," ucapnya
Keenam, pasar melihat bahwa modal sosial tim pemerintah rendah seperti ditunjukkan dalam perkelahian internal satu sama lain. Satu tim kolektif saling tidak percaya, tidak akan menghasilkan kebijakan efektif.
"Jadi, kesimpulannya, krisis nilai tukar ini sudah terpuruk karena gabungan pengaruh faktor ekonomi (internal dan eksternal) dan juga faktor-faktor non ekonomi, politik, sosial dan psikologis. Kedua ini semakin besar sehingga pemerintah kebobolaan," terangnya.
"Filipina, India dan Vietnam tidak terkena pengaruh eksternal yang dalam. Nilai tukarnya tetap kuat dengan sedikit saja depresiasi. India karena ekspornya kuat dan Filipina karena remittance jasa tenaga kerjanya besar dan tim ekonominya bekerja bagus," tutup Didik.
Baca Juga:
Yen Menguat terhadap USD, Rupiah Dibuka Tertekan
Koreksi Rupiah Mereda Siang Ini Jelang Rilis Paket Ekonomi
(izz)
Lihat Juga :