BI: Paket Kebijakan Direspon Positif Bikin Rupiah Makin Perkasa
Kamis, 08 Oktober 2015 - 06:01 WIB
BI: Paket Kebijakan Direspon Positif Bikin Rupiah Makin Perkasa
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengaklaim paket kebijakan ekonomi yang direspon positif pasar menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) semakin perkasa dalam dua hari belakangan ini.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menerangkan situasi pasar keuangan yang terus membaik akhir-akhir ini merupakan respon positif pasar melihat komitmen pemerintah melakukan deregulasi.
Sejak paket pertama hingga ketiga, Mirza mengatakan pasar menyambut positif yang menunjukkan bahwa pemerintah serius melakukan reformasi struktural.
"Nah struktural reform ini mulai dari pariwisata dan perizinan di berbagai sektor tentu dalam jangka menengah-panjang akan menurunkan inflasi dan juga dalam jangka menengah panjang akan menambah suplai valuta asing," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/10/2015).
Selain cerahnya nilai tukar mata uang Garuda, dalam tiga hari ini pasar obligasi negara juga menunjukkan respon positif yang terlihat dari yeild obligasi negara terkerek mendekati 10% atau sekitar 8,4% pada hari ini.
"Artinya, kalau rate turun ongkos pembiayaan pemerintah untuk membiayai APBN artinya membaik. Sekali lagi kami sangat mengapresiasi komitmen pemerintah untuk melakukan reformasi di struktural reform," imbuhnya.
Mirza menambahkan, kebijakan menambah pasokan valas di pasar spot dan pasar forward yang dilakukan BI dalam paket kebijakan jilid II juga sudah menunjukkan dampak positif. Hal ini terlihat dari masyarakat yang mulai menjual dolar mereka setelah sempat terjadi penumpukkan lantaran spekulasi berlebihan. "Orang mulai menjual dolar-dolar yang mereka kemarin mungkin berspekulasi menumpuknya," terangnya.
Selain faktor internal, membaiknya kondisi pasar keuangan juga disebabkan karena data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan sedikit pelemahan, sehingga konsensus dari kenaikan suku bunga AS (The Fed) mulai bergeser dari sebelumnya pada Oktober hingga November menjadi kuartal I/2016.
"Ini membuat di pasar keuangan menjadi pembalikan beberapa investor dan mungkin beberapa spekulan yang sudah beli dolar lebih awal mereka melakukan cut lost di pasar keuangan. Ini juga terjadi di Malaysia dan emerging market lain," tandas Mirza.
Baca juga:
Melesat 400-an Poin, Rupiah Naik Tertinggi ke-2 di Asia
Penguatan Rupiah Dinilai Hanya Bertahan 3 Hari
Cadangan Devisa RI September Turun untuk Stabilkan Rupiah
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menerangkan situasi pasar keuangan yang terus membaik akhir-akhir ini merupakan respon positif pasar melihat komitmen pemerintah melakukan deregulasi.
Sejak paket pertama hingga ketiga, Mirza mengatakan pasar menyambut positif yang menunjukkan bahwa pemerintah serius melakukan reformasi struktural.
"Nah struktural reform ini mulai dari pariwisata dan perizinan di berbagai sektor tentu dalam jangka menengah-panjang akan menurunkan inflasi dan juga dalam jangka menengah panjang akan menambah suplai valuta asing," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/10/2015).
Selain cerahnya nilai tukar mata uang Garuda, dalam tiga hari ini pasar obligasi negara juga menunjukkan respon positif yang terlihat dari yeild obligasi negara terkerek mendekati 10% atau sekitar 8,4% pada hari ini.
"Artinya, kalau rate turun ongkos pembiayaan pemerintah untuk membiayai APBN artinya membaik. Sekali lagi kami sangat mengapresiasi komitmen pemerintah untuk melakukan reformasi di struktural reform," imbuhnya.
Mirza menambahkan, kebijakan menambah pasokan valas di pasar spot dan pasar forward yang dilakukan BI dalam paket kebijakan jilid II juga sudah menunjukkan dampak positif. Hal ini terlihat dari masyarakat yang mulai menjual dolar mereka setelah sempat terjadi penumpukkan lantaran spekulasi berlebihan. "Orang mulai menjual dolar-dolar yang mereka kemarin mungkin berspekulasi menumpuknya," terangnya.
Selain faktor internal, membaiknya kondisi pasar keuangan juga disebabkan karena data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan sedikit pelemahan, sehingga konsensus dari kenaikan suku bunga AS (The Fed) mulai bergeser dari sebelumnya pada Oktober hingga November menjadi kuartal I/2016.
"Ini membuat di pasar keuangan menjadi pembalikan beberapa investor dan mungkin beberapa spekulan yang sudah beli dolar lebih awal mereka melakukan cut lost di pasar keuangan. Ini juga terjadi di Malaysia dan emerging market lain," tandas Mirza.
Baca juga:
Melesat 400-an Poin, Rupiah Naik Tertinggi ke-2 di Asia
Penguatan Rupiah Dinilai Hanya Bertahan 3 Hari
Cadangan Devisa RI September Turun untuk Stabilkan Rupiah
(dmd)
Lihat Juga :