Rupiah Makin Perkasa, Masyarakat Ramai-ramai Jual Dolar

Sabtu, 10 Oktober 2015 - 15:01 WIB
Rupiah Makin Perkasa,...
Rupiah Makin Perkasa, Masyarakat Ramai-ramai Jual Dolar
A A A
JAKARTA - Analis PT Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang terjadi selama sepekan belakangan ini membuat masyarakat ramai-ramai menjual USD yang dimilikinya.

Dia mengatakan, kendati penguatan mata uang Garuda belum masuk pada level harga wajar, namun keperkasaan rupiah ini sudah menciptakan kepanikan pasar jika ke depan akan semakin menguat.

"Kalau lihat harga wajar sih memang rupiah itu wajar di angka Rp11.500 sampai Rp12.500 per USD. Kemarin sampai Rp14.700 itu sudah enggak wajar. Jadi sekarang ini walaupun sudah Rp13.200 itu masih belum normal," katanya saat dihubungi Sindonews di Jakarta, Sabtu (10/10/2015).

Menurutnya, penguatan ini juga disebabkan karena beberapa kebijakan pemerintah membuat spekulan mundur. Terjadi profit taking di pasar karena takut kebijakan pemerintah akan semakin membuat rupiah melonjak. (Baca: Rupiah Ditutup Ceria Mengakhiri Pekan)

"Mereka kemarin kan ramai-ramai beli dolar waktu anjlok, nah sekarang profit taking karena takut kebijakan pemerintah bakal membuat rupiah menguat," imbuh dia.

Ditambah lagi, sambung Kiswo, orang-orang yang kemarin memburu mata uang Paman Sam kini justru melepasnya karena takut rupiah semakin menguat.

"Jadi efek bola salju lah. Kalau dulu-dulu pada beli dolar. Sekarang ramai-ramari jual dolar. Jadi ada panic sell," tandasnya. (Baca: Rupiah Menuju Kenaikan Mingguan Terbaik Lebih dari Satu Dekade)

Seperti diberitakan sebelumnya, rupiah dan ringgit menuju kenaikan mingguan terbaik lebih dari satu dekade atau masing-masing sejak 2001 dan 1998 karena Indonesia dan Malaysia memanfaatkan reli pasar saham, rebound harga komoditas dan tanda-tanda Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini. (Baca: Rupiah Betah di Zona Hijau Imbas Rilis Paket Ekonomi)

Rupiah melonjak 3,8% menjadi Rp13.371/USD pada siang tadi di Jakarta, kenaikan pekan ini menjadi 9,5%. Ringgit naik 2,9% pada hari Jumat dan 7,3% sejak 2 Oktober menjadi 4,1165. Reli minggu ini terjadi setelah mata uang Malaysia dan Indonesia masing-masing kehilangan 14% dan 9% pada kuartal terakhir.

Mengecewakannya data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang mendorong kembali harapan bagi ekonomi terbesar dunia akan menaikkan biaya pinjaman memacu keuntungan di saham negara berkembang dan mata uang pekan ini dan yang diperkuat oleh rilis risalah dari pertemuan The Fed pada September lalu.

Naiknya harga minyak dan komoditas juga memberi manfaat bagi Malaysia dan Indonesia. (lly)

(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
7 jam yang lalu
Tak Sekadar Nyaman,...
Tak Sekadar Nyaman, Hunian Masa Depan Kini Mengandalkan Energi Hijau
7 jam yang lalu
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
8 jam yang lalu
Program CID Pertamina...
Program CID Pertamina Patra Niaga Ubah Tantangan Lokal Jadi Peluang Usaha
8 jam yang lalu
SIG Berdayakan UMKM...
SIG Berdayakan UMKM Berbasis Potensi Lokal di Tuban
8 jam yang lalu
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
8 jam yang lalu
Infografis
Warren Buffett Sebut...
Warren Buffett Sebut Dolar AS Sedang Menuju ke Neraka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved