Ini Solusi Penguatan Rupiah versi Indef
Senin, 19 Oktober 2015 - 18:35 WIB
Ini Solusi Penguatan Rupiah versi Indef
A
A
A
JAKARTA - Economist Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian mengatakan, solusi agar rupiah kembali menguat adalah pembenahan fundamental ekonomi.
Menurutnya, salah satu penyebab pelemahan rupiah adalah defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya impor migas sebagai konsekuensi dari konsumsi BBM (khususnya premium) yang terus tumbuh sangat cepat.
Karena itu, pengendalian konsumsi BBM sangat penting, misalkan dengan mekanisme harga (melepas harga premium sesuai harga pasar), tetapi hal ini bertentangan dengan konstitusi negara.
"Oleh karena itu, cara yang paling masuk akal adalah menghilangkan premium sama sekali di Indonesia," ujar Dzulfian, saat dihubungi, Senin (19/10/2015).
Diversifikasi energi BBM menjadi BBG juga dapat mengurangi defisit migas karena hingga saat ini Indonesia masih surplus gas, sedang di sisi lain tidak lagi menjadi negara pengekspor minyak (net importer).
Solusi lain juga terkait perbaikan kinerja ekspor. Indonesia harus beralih dari ekspor berbasis komoditas menjadi ekspor berbasis barang-barang yang bernilai tambah tinggi.
Saat ini, hampir setengah (sekitar 47%) ekspor RI masih bergantung dari ekspor komoditas, padahal harga komoditas sedang jatuh sehingga nilai ekspor juga anjlok. "Dengan meningkatkan ekspor dengan nilai tambah lebih tinggi, hal ini akan membuat rupiah kembali terapresiasi," tukasnya.
Solusi lain, lanjut Dzulfian, adalah mengurangi ketergantungan investasi di sektor portofolio (hot money) dan memperbanyak investasi langsung sehingga perekonomian Indonesia tidak lagi rentan terhadap ancaman pelarian modal (capital outflow) yang berujung pada tingginya volatilitas rupiah.
Baca juga:
USD Datar terhadap Yen, Rupiah Berakhir Rebound
Indef: Rupiah Sempat Menguat karena Data Ini
DPR: Rupiah Mendadak Ambruk karena Pemerintah Terlena
Menurutnya, salah satu penyebab pelemahan rupiah adalah defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya impor migas sebagai konsekuensi dari konsumsi BBM (khususnya premium) yang terus tumbuh sangat cepat.
Karena itu, pengendalian konsumsi BBM sangat penting, misalkan dengan mekanisme harga (melepas harga premium sesuai harga pasar), tetapi hal ini bertentangan dengan konstitusi negara.
"Oleh karena itu, cara yang paling masuk akal adalah menghilangkan premium sama sekali di Indonesia," ujar Dzulfian, saat dihubungi, Senin (19/10/2015).
Diversifikasi energi BBM menjadi BBG juga dapat mengurangi defisit migas karena hingga saat ini Indonesia masih surplus gas, sedang di sisi lain tidak lagi menjadi negara pengekspor minyak (net importer).
Solusi lain juga terkait perbaikan kinerja ekspor. Indonesia harus beralih dari ekspor berbasis komoditas menjadi ekspor berbasis barang-barang yang bernilai tambah tinggi.
Saat ini, hampir setengah (sekitar 47%) ekspor RI masih bergantung dari ekspor komoditas, padahal harga komoditas sedang jatuh sehingga nilai ekspor juga anjlok. "Dengan meningkatkan ekspor dengan nilai tambah lebih tinggi, hal ini akan membuat rupiah kembali terapresiasi," tukasnya.
Solusi lain, lanjut Dzulfian, adalah mengurangi ketergantungan investasi di sektor portofolio (hot money) dan memperbanyak investasi langsung sehingga perekonomian Indonesia tidak lagi rentan terhadap ancaman pelarian modal (capital outflow) yang berujung pada tingginya volatilitas rupiah.
Baca juga:
USD Datar terhadap Yen, Rupiah Berakhir Rebound
Indef: Rupiah Sempat Menguat karena Data Ini
DPR: Rupiah Mendadak Ambruk karena Pemerintah Terlena
(dmd)