Dibayangi Kenaikan Suku Bunga, Wall Street Menguat Tipis
Rabu, 11 November 2015 - 08:51 WIB
Dibayangi Kenaikan Suku Bunga, Wall Street Menguat Tipis
A
A
A
NEW YORK - Wall Street berakhir menguat tipis setelah berfluktuasi pada Selasa waktu setempat didukung naiknya saham sektor konsumen mengimbangi penurunan saham Apple dan investor yang bertahan terhadap kenaikan suku bunga pada bulan depan.
Saham Apple anjlok 3,15% setelah Credit Suisse mengatakan bahwa produsen iPhone tersebut telah memangkas pesanan komponen sebanyak 10%, mengindikasikan melemahnya permintaan untuk smartphone terbarunya. Saham Apple menjadi hambatan terbesar tiga indeks utama.
"Kami bisa menghadapi beberapa perdagangan semacam ini di tengah gagasan dari kenaikan suku bunga," kata Manajer Portofolio di Swarthmore Group Kurt Brunner, seperti dilansir dari Reuters, Rabu (11/11/2015).
Laporan dari Apple menambah ketakutan sebelumnya dari perlambatan pertumbuhan global, terutama di China sebagai pasar utama bagi banyak perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) termasuk Apple, menjelang musim liburan.
Data pada Selasa menunjukkan tekanan deflasi di China diikuti data perdagangan yang mengecewakan selama akhir pekan. Perusahaan juga akan dipukul dengan biaya pinjaman yang lebih tinggi jika Federal Reserve AS menaikkan suku bunga pada bulan depan.
Adapun indeks Dow Jones ditutup naik 0,16% menjadi berakhir di 17.758,21 dan setelah jatuh di empat sesi sebelumnya, indeks S&P 500 variatif sebelum ditutup naik 0,15% menjadi 2.081,72. Sedangkan Nasdaq Composite turun 0,24% menjadi 5.083,24.
Menurut data Thomson Reuters, sekitar 6,7 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di bawah rata-rata harian selama 20 hari perdagangan terakhir sebanyak 7,1 miliar saham.
Saham Apple anjlok 3,15% setelah Credit Suisse mengatakan bahwa produsen iPhone tersebut telah memangkas pesanan komponen sebanyak 10%, mengindikasikan melemahnya permintaan untuk smartphone terbarunya. Saham Apple menjadi hambatan terbesar tiga indeks utama.
"Kami bisa menghadapi beberapa perdagangan semacam ini di tengah gagasan dari kenaikan suku bunga," kata Manajer Portofolio di Swarthmore Group Kurt Brunner, seperti dilansir dari Reuters, Rabu (11/11/2015).
Laporan dari Apple menambah ketakutan sebelumnya dari perlambatan pertumbuhan global, terutama di China sebagai pasar utama bagi banyak perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) termasuk Apple, menjelang musim liburan.
Data pada Selasa menunjukkan tekanan deflasi di China diikuti data perdagangan yang mengecewakan selama akhir pekan. Perusahaan juga akan dipukul dengan biaya pinjaman yang lebih tinggi jika Federal Reserve AS menaikkan suku bunga pada bulan depan.
Adapun indeks Dow Jones ditutup naik 0,16% menjadi berakhir di 17.758,21 dan setelah jatuh di empat sesi sebelumnya, indeks S&P 500 variatif sebelum ditutup naik 0,15% menjadi 2.081,72. Sedangkan Nasdaq Composite turun 0,24% menjadi 5.083,24.
Menurut data Thomson Reuters, sekitar 6,7 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di bawah rata-rata harian selama 20 hari perdagangan terakhir sebanyak 7,1 miliar saham.
(rna)
Lihat Juga :