Rupiah Diramal Masih Terancam Melemah
Selasa, 15 Desember 2015 - 08:19 WIB
Rupiah Diramal Masih Terancam Melemah
A
A
A
JAKARTA - Laju rupiah pada hari ini diperkirakan terancam melemah akibat cenderung negatifnya sentimen yang ada di dalam dan luar negeri. Ketidakpastian atas kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) masih berpengaruh besar.
"Cenderung negatifnya sentiment yang ada membuat posisi rupiah diperkirakan akan terancam pelemahan. Tetap mewaspadai potensi pelemahan yang ada," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (15/12/2015).
Dia memprediksi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia akan berada pada rentang Rp14.050-Rp14.125/USD.
Menurutnya rupiah bakal kembali mengalami pelemahan seperti kemarin seiring sentimen yang sama terjadi pada IHSG, dimana jelang rapat FOMC pada pekan ini yang juga berbarengan dengan akan diadakannya Rapat Dewan Gubernur BI.
Kedua sentimen tersebut Dia jelaskan dampaknya kurang lebih sama dimana banyak pelaku pasar yang menantikan keputusan akan berubah maupun tidaknya suku bunga dari masing-masing Bank Sentral. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar lebih memilih untuk memegang hard currency yang lebih kuat, yaitu USD.
Imbasnya tentu dirasakan sejumlah mata uang lainnya. "Seperti EUR, JPN, CNY, GBP, dan beberapa lainnya yang melemah. Dengan melemahnya sejumlah mata uang tersebut membuat rupiah turut rentan terkena pelemahan," pungkasnya.
"Cenderung negatifnya sentiment yang ada membuat posisi rupiah diperkirakan akan terancam pelemahan. Tetap mewaspadai potensi pelemahan yang ada," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (15/12/2015).
Dia memprediksi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia akan berada pada rentang Rp14.050-Rp14.125/USD.
Menurutnya rupiah bakal kembali mengalami pelemahan seperti kemarin seiring sentimen yang sama terjadi pada IHSG, dimana jelang rapat FOMC pada pekan ini yang juga berbarengan dengan akan diadakannya Rapat Dewan Gubernur BI.
Kedua sentimen tersebut Dia jelaskan dampaknya kurang lebih sama dimana banyak pelaku pasar yang menantikan keputusan akan berubah maupun tidaknya suku bunga dari masing-masing Bank Sentral. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar lebih memilih untuk memegang hard currency yang lebih kuat, yaitu USD.
Imbasnya tentu dirasakan sejumlah mata uang lainnya. "Seperti EUR, JPN, CNY, GBP, dan beberapa lainnya yang melemah. Dengan melemahnya sejumlah mata uang tersebut membuat rupiah turut rentan terkena pelemahan," pungkasnya.
(akr)