Jawaban Pemerintah Atas Tudingan Faisal Basri Soal Blok Masela

Minggu, 24 Januari 2016 - 17:01 WIB
Jawaban Pemerintah Atas...
Jawaban Pemerintah Atas Tudingan Faisal Basri Soal Blok Masela
A A A
JAKARTA - Pemerintah merespon pernyataan Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri yang mengungkapkan ada banyak kepentingan di balik skema blok Masela, Maluku. Melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya dijelaskan kenapa opsi pembangunan pipanisasi (onshore) lebih menguntungkan dibanding di tengah laut (offshore).

(Baca Juga: Soal Blok Masela, Faisal Basri Minta Rizal Ramli Ditertibkan)

Tenaga Ahli Bidang Energi Kemenko Maritim dan Sumber Daya Dr. Haposan Napitupulu juga membantah bahwa skema rencana kilang darat bakal menjadi proyek terbesar di Indonesia. Menurutnya jalur pipa yang akan dibangun di skenario Kilang LNG Darat adalah dari Lapangan Abadi ke Pulau Selaru hanya sepanjang 90 km.

"Bagi hasil atau split Blok Masela adalah 60/40 atau 60% untuk pemerintah dan 50% untuk kontraktor setelah dikurangi cost recovery. Proyek ini bukan merupakan proyek pipa terbesar di Indonesia, karena sebelumnya juga pernah dibangun jalur pipa gas laut, papangan Kakap atau Natuna ke Singapore sepanjang 500 Km," jelasnya lewat keterangan tertulis yang diterima Sindonews, Minggu (24/1/2016).

(Baca Juga: Bangun Kilang Masela di Laut Lebih Berisiko Dibanding di Darat)

Dia juga menekankan bahwa skema pembangunan kapal di tengah laut atau offshore membutuhkan biaya yang lebih besar apabila dibandingkan membangun dengan cara pipanisasi. Mengacu pada biaya pembangunan 16 Kilang LNG darat yang telah terbangun di Indonesia dan 1 Kilang LNG yang masih dalam tahap perencanaan Kilang LNG Tangguh Train 3, diperkirakan mencapai USD 16 milyar.

"Mengacu kepada biaya LNG Laut di Prelude-Australia, maka perkiraan biaya pembangunan skenario Kilang LNG Laut sekitar USD 23-26 miliar sedangkan kilang darat diperkirakan mencapai USD 16 miliar. Secara ke ekonomian skenario LNG Laut lebih mahal yang akan berakibat tingginya cost recovery atau semakin berkurangnya pendapatan bagian negara," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Minim Pengalaman, Kemampuan...
Minim Pengalaman, Kemampuan Inpex Kembangkan Blok Masela Diragukan
Proses Akuisisi Rampung,...
Proses Akuisisi Rampung, Pertamina dan Petronas Siap Sedot Gas di Blok Masela
Shell Akhirnya Lepas...
Shell Akhirnya Lepas Blok Masela ke Pertamina Jauh di Bawah Rp14,8 Triliun
Shell Cabut dari Proyek...
Shell Cabut dari Proyek Blok Masela, Inpex Resmi Cari Mitra Baru
Proyek Blok Masela Ikut...
Proyek Blok Masela Ikut Terganggu Imbas Covid-19
Shell Belum Mundur dari...
Shell Belum Mundur dari Blok Masella, Masih Hitung-hitungan
Berita Terkini
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
58 menit yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
3 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
3 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
4 jam yang lalu
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
5 jam yang lalu
Selat Hormuz Dikunci...
Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
7 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Tom Lembong...
5 Alasan Tom Lembong Ajukan Banding atas Vonis 4,5 Tahun Penjara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved