Minyak Dunia Merosot, Harga Premium Bisa di Bawah Rp5.600
Minggu, 24 Januari 2016 - 21:18 WIB
Minyak Dunia Merosot, Harga Premium Bisa di Bawah Rp5.600
A
A
A
JAKARTA - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menurut Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Ramson Siagian bisa turun hingga di bawah Rp5.600 untuk jenis premium ketika minyak mentah global terus memperlihatkan tren penurunan. Menurutnya dengan kondisi saat ini, harga yang dipatok PT Pertamina (Persero) sebesar Rp6.950 dinilai masih terlalu tinggi.
"Harga yang sekarang terlalu tinggi dari realitasnya. Kalau dianalisis itu sudah lebih tinggi dari harga keekonomian. Artinya rakyat memberi subsidi ke pemerintah. Seharusnya ini bisa turun di angka Rp5.600 untuk premium," jelasnya dalam diskusi bertajuk 'Prospek Harga BBM' di Gedung Dewan Pers Jakarta, Minggu (24/1/2016).
(Baca Juga: Pertamina Didesak Sesuaikan Harga BBM Subsidi)
"Dengan harga minyak dunia USD25 per barel seharusnya dapat turun lagi dengan asumsi bahwa 100% harga minyak mentah ditambah 100% ekstra cost refinary, biaya angkut, margin untuk SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) dan pajak lainnya," sambungnya.
Dia menambahkan jika pemerintah piawai dalam menetapkan harga BBM, menurutnya dana keuntungan yang didapat bisa digunakan untuk industri dalam negeri lebih unggul dan cost energi dapat menurun. Terlebih lagi, dijelaskan saat ini keuntungan Pertamina sebesar 80 persen dari sektor hulu dan produksi gas, bukan dari hilir atau penjualan BBM.
"Tadinya sesuai dengan mekanisme pasar atau harga keekonomian, bisa lebih tinggi dibanding harga keekonomian. Kontribusi dari sektor hulu tadinya 80%, kalau tidak efisien, dan harga minyak dunia mendekati USD25 maka tidak ada lagi keuntungan. Maka diharapkan dari penjualan BBM yang tidak turun saat ini," tandasnya.
"Harga yang sekarang terlalu tinggi dari realitasnya. Kalau dianalisis itu sudah lebih tinggi dari harga keekonomian. Artinya rakyat memberi subsidi ke pemerintah. Seharusnya ini bisa turun di angka Rp5.600 untuk premium," jelasnya dalam diskusi bertajuk 'Prospek Harga BBM' di Gedung Dewan Pers Jakarta, Minggu (24/1/2016).
(Baca Juga: Pertamina Didesak Sesuaikan Harga BBM Subsidi)
"Dengan harga minyak dunia USD25 per barel seharusnya dapat turun lagi dengan asumsi bahwa 100% harga minyak mentah ditambah 100% ekstra cost refinary, biaya angkut, margin untuk SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) dan pajak lainnya," sambungnya.
Dia menambahkan jika pemerintah piawai dalam menetapkan harga BBM, menurutnya dana keuntungan yang didapat bisa digunakan untuk industri dalam negeri lebih unggul dan cost energi dapat menurun. Terlebih lagi, dijelaskan saat ini keuntungan Pertamina sebesar 80 persen dari sektor hulu dan produksi gas, bukan dari hilir atau penjualan BBM.
"Tadinya sesuai dengan mekanisme pasar atau harga keekonomian, bisa lebih tinggi dibanding harga keekonomian. Kontribusi dari sektor hulu tadinya 80%, kalau tidak efisien, dan harga minyak dunia mendekati USD25 maka tidak ada lagi keuntungan. Maka diharapkan dari penjualan BBM yang tidak turun saat ini," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :