Ekonomi RI Tergerus Anjloknya Harga Komoditas

Selasa, 26 Januari 2016 - 12:24 WIB
Ekonomi RI Tergerus...
Ekonomi RI Tergerus Anjloknya Harga Komoditas
A A A
JAKARTA - Chief Executive Officer (CEO) MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) menilai, kondisi perekonomian Indonesia tahun ini masih tergerus dan mengalami ketidakpastian. Karena, harga komoditas di pasar global terus merosot, sementara kekuatan ekonomi Tanah Air salah satunya dari komoditas dan kekayaan sumber daya alam (SDA).

Menurutnya, saat ini tren harga minyak‎ dunia telah berada di bawah USD30 per barel. Artinya, komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, karet dan lainnya akan sulit untuk mengalami peningkatan dan bahkan mengalami penurunan.

"‎Indonesia sangat kuat di komoditas, akibatnya penghasilan di komoditas akan turun terus dan memengaruhi ekspor," katanya di Gedung MNC Tower, Jakarta, Selasa (26/1/2016).

Menurutnya, untuk mengaktifkan pertumbuhan ekonomi nasional dibutuhkan investasi. Namun, untuk mendatangkan investasi dari luar negeri (foreign direct investment/FDI) bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kiat cerdas bagaimana mengembangkan investasi di Indonesia.

"Bukan hanya dengan memangkas birokrasi perizinan saja, tapi mengubah infrastruktur baik jalan, listrik dan lain-lain. Apalagi ekonomi di luar negeri juga mengalami slowdown. Ekonomi China mengalami pertumbuhan terendah selama 25 tahun terakhir yaitu 6,9%. Eropa dan Amerika Serikat juga sama (slowdown)," imbuh HT.

Karena itu, menarik investasi dari luar negeri ‎ke Indonesia tidak semudah yang dibayangkan. Saat ini, investor kembali ke masa wait and see bagaimana perkembangan ekonomi di Tanah Air ke depannya. "Jadi (investasi) harus tergantung dari dalam, baik BUMN atau swasta," katanya.

Ketua Umum Partai Perindo ini menambahkan, dari sisi perpajakan, pemerintah masih akan menemui banyak tantangan untuk menggenjot penerimaan pajak. Pasalnya, dengan kondisi ekonomi saat ini, penerimaan dari wajib pajak yang sudah rutin pun akan cenderung menurun.

"Tantangannya pemerintah harus memperbesar basis pajak. Jumlah wajib pajak ada 20 juta, tapi yang bayar pajak hanya satu juta. Jadi, saya ingin berikan gambaran bahwa ekonomi kita penuh tantangan," tegasnya.

Apalagi, sambung HT, eksekusi berbagai proyek infrastruktur pemerintah pun dinilai masih lamban. Pemerintah hanya unggul dan cepat dalam penataan birokrasi perizinan, namun dalam eksekusi proyek hingga proyek itu selesai masih lamban.

"‎2015 pemerintah mencanangkan pembangunan pembangkit listrik sekitar 35 ribu MW untuk lima tahun, tapi sampai hari ini belum. Padahal itu proyek besar sekali, bisa makan USD60 miliar investasinya. Jadi eksekusinya lambat dan masih banyak lagi," tandas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
HT Tegaskan Sulsel dan...
HT Tegaskan Sulsel dan Sumut Harus Jadi Lumbung Suara Partai Perindo
Apresiasi Natal Nasional...
Apresiasi Natal Nasional 2023 di Surabaya Sukses, HT: Ramai Sekali
Hary Tanoesoedibjo:...
Hary Tanoesoedibjo: Ekonomi RI Akan Segera Pulih
Harapan Hary Tanoe di...
Harapan Hary Tanoe di HUT Soulyu
Bangkitkan Ekonomi Masyarakat,...
Bangkitkan Ekonomi Masyarakat, HT Serahkan Bantuan Gerobak Perindo di Pontianak
Hary Tanoesoedibjo:...
Hary Tanoesoedibjo: MNC Group Dukung Pemulihan Ekonomi RI
Berita Terkini
Lindungi Konsumen, Pakar...
Lindungi Konsumen, Pakar UI Ingatkan Dampak Paparan BPA Galon Guna Ulang
12 menit yang lalu
IHSG Kembali Babak Belur...
IHSG Kembali Babak Belur Siang Ini, Nyungsep 2,53% ke 5.692
25 menit yang lalu
Teknologi Fungisida...
Teknologi Fungisida Baru Syngenta Dukung Target Swasembada Beras
38 menit yang lalu
Prabowo Resmi Rilis...
Prabowo Resmi Rilis Aturan Ekspor 3 Komoditas Lewat Satu Pintu, Ini Ketentuannya
49 menit yang lalu
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
2 jam yang lalu
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
2 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved