BI Ungkap Penyebab RI Rentan Gejolak Ekonomi Global

Jum'at, 29 Januari 2016 - 11:05 WIB
BI Ungkap Penyebab RI...
BI Ungkap Penyebab RI Rentan Gejolak Ekonomi Global
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, rentannya Indonesia terhadap gejolak perekonomian global karena selama ini Indonesia sangat tergantung pada pendanaan dari luar negeri.

Akibatnya, Tanah Air selalu ketakutan dengan gejolak perekonomian global yang pada akhirnya menyebabkan arus modal yang keluar (capital outflow) dari dalam negeri sangat deras.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, pada 1998 defisit yang terjadi pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) selalu didanai oleh pinjaman dari lembaga multilateral seperti World Bank, Asian Development Bank (ADB) atau dari pinjaman bilateral dan multilateral antar negara.

Namun saat ini, Indonesia tidak lagi dikategorikan sebagai negara miskin dan tidak bisa lagi mengais pinjaman dari lembaga keuangan internasional tersebut.

"Jadi, kita harus pinjam dari capital market.‎ Unfortunately, karena dana di dalam negeri tidak cukup, pemerintah tidak bisa pinjam dari perbankan, perbankan beli SBN tidak bisa terlalu besar. Reksa dana, dana pensiun, dan asuransi di Indonesia juga size-nya kecil. Jadi, mau tidak mau dana datang dari luar negeri," terang dia di Graha Niaga, Jakarta, Jumat (29/1/2016).

‎Dia menyebutkan, sekitar 38% dari Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia dimiliki asing, dan setiap tahun selalu ada penerbitan surat utang baru serta setiap tahun ada utang jatuh tempo. Bahkan, tahun ini total SBN untuk membiayai defisit APBN dan utang jatuh tempo mencapai Rp542 triliun.

"‎Outstanding 38% dimiliki asing. Jadi kita penting sekali jaga confident dari asing dan stabilitas dari flows," imbuh Mirza.

Selain itu, utang luar negeri (ULN) swasta juga ‎tidak kalah besarnya. Sebab, rasio besarnya kredit (loan to deposit ratio/LDR) perbankan nasional telah mencapai 90%. Artinya, perbankan nasional tidak mampu mendanai seluruh kredit di Indonesia.

"USD167 miliar sekarang ULN swasta termasuk perbankan. Komponen ULN besar sekali dari capital market asing," tuturnya.

Menurutnya, pendanaan dan modal korporasi besar di Tanah Air‎ tidak hanya berasal dari utang namun juga dari modal. Sayangnya, besarnya modal yang dibutuhkan perusahaan di Indonesia membuat mereka tidak hanya 100% mengambil dari modal pemilik perusahaan, namun juga modal dari publik.

"‎Jadi, jika Bank Mandiri butuh modal, paling tidak publik harus 40%. Nah 40% itu mayoritas asing. Begitu juga di BRI, BTN, Telkom. Semua perusahaan besar kita yang go public ketika butuh modal, lalu ada capital call, ini harus disubscribe oleh publik. Maka penting kalau flows ke Indonesia harus dijaga," tandas dia.
(izz)
Berita Terkait
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Berita Terkini
Pascalebaran, Harga...
Pascalebaran, Harga Beras, Bawang, Cabai, hingga Daging Mulai Turun
55 menit yang lalu
Mereda, Harga Emas Antam...
Mereda, Harga Emas Antam Hari Ini Turun ke Rp1.819.000 per Gram
1 jam yang lalu
Diguncang Tarif Trump,...
Diguncang Tarif Trump, Pasar Global Kacau Balau
3 jam yang lalu
Respons Kebijakan Tarif...
Respons Kebijakan Tarif Trump, Kadin: Pintu Negosiasi Masih Terbuka
3 jam yang lalu
20 Negara Penyumbang...
20 Negara Penyumbang Terbesar Defisit Perdagangan AS Tahun 2024, Indonesia Urutan Berapa?
11 jam yang lalu
Kena Tarif Impor 32%,...
Kena Tarif Impor 32%, Indonesia Terus Berkomunikasi Intensif dan Melobi Amerika Serikat
12 jam yang lalu
Infografis
3 Sekutu China Terkuat...
3 Sekutu China Terkuat Berdasarkan Global Fire Power 2025
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved