Tanggapi Isu PHK, Menkeu Sebut Itu Hanya Berkembang di WhatsApp
Jum'at, 05 Februari 2016 - 19:20 WIB
Tanggapi Isu PHK, Menkeu Sebut Itu Hanya Berkembang di WhatsApp
A
A
A
JAKARTA - Maraknya isu pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan beberapa perusahaan Jepang di Indonesia, ditanggapi Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro santai. Dia memandang hal itu sebagai isu yang hanya berkembang di media sosial WhatsApp (WA).
Menurutnya, kabar tersebut merupakan isu kuno yang bisa mempengaruhi orang berpikir negatif tentang perekonomian Indonesia yang memburuk. Padahal nyatanya baik-baik saja.
Baca: Dua Perusahaan Automotif Jepang Susul PHK Ribuan Karyawan
"PHK itu kan isunya dapat dari WhatsApp. Baca dong banyak yang kuno itu. Dan, kayak Ford memang enggak pernah punya pabrik kok di Indonesia. Kalau memang mereka narik orangnya, unit jual belinya saja. Nyatanya ekonomi kita baik-baik saja," ujar Bambang di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/2/2016).
Dia menjelaskan, tidak bisa dipungkiri bahwa penjualan mobil dan motor tumbuh negatif pada 2015, sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Hal ini akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia karena turunnya komoditas, memicu pelemahan konsumsi di masa lalu.
Jika komoditas sudah hilang, lanjut Menkeu, tumpuannya tidak ada lagi. Sehingga, konsumsi saat ini tergantung pada belanja pemerintah. (Baca: KSPI Beberkan Faktor Utama Marak PHK)
"Artinya dari sisi kami, pemerintah sudah menjalankan tugas, investasi dan konsumsi pemerintah naik, tinggal sekarang dampak ikutannya terhadap sektor riil," tanndasnya.
Menurutnya, kabar tersebut merupakan isu kuno yang bisa mempengaruhi orang berpikir negatif tentang perekonomian Indonesia yang memburuk. Padahal nyatanya baik-baik saja.
Baca: Dua Perusahaan Automotif Jepang Susul PHK Ribuan Karyawan
"PHK itu kan isunya dapat dari WhatsApp. Baca dong banyak yang kuno itu. Dan, kayak Ford memang enggak pernah punya pabrik kok di Indonesia. Kalau memang mereka narik orangnya, unit jual belinya saja. Nyatanya ekonomi kita baik-baik saja," ujar Bambang di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/2/2016).
Dia menjelaskan, tidak bisa dipungkiri bahwa penjualan mobil dan motor tumbuh negatif pada 2015, sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Hal ini akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia karena turunnya komoditas, memicu pelemahan konsumsi di masa lalu.
Jika komoditas sudah hilang, lanjut Menkeu, tumpuannya tidak ada lagi. Sehingga, konsumsi saat ini tergantung pada belanja pemerintah. (Baca: KSPI Beberkan Faktor Utama Marak PHK)
"Artinya dari sisi kami, pemerintah sudah menjalankan tugas, investasi dan konsumsi pemerintah naik, tinggal sekarang dampak ikutannya terhadap sektor riil," tanndasnya.
(dmd)
Lihat Juga :