Rupiah Diramal Lanjutkan Pelemahan
Senin, 15 Februari 2016 - 08:17 WIB
Rupiah Diramal Lanjutkan Pelemahan
A
A
A
JAKARTA - Laju rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari ini diramal melanjutkan pelemahan jika tidak ada sentimen positif yang cukup memberikan dorongan penguatan pada rupiah.
"Apalagi jika rilis data-data ekonomi pada awal pekan tidak begitu baik, maka perlu kiranya diwaspadai potensi pelemahan lanjutkan rupiah," ujarnya di Jakarta, Senin (15/2/2016).
Reza mengatakan, pasca laju rupiah mengalami kenaikan, kini mulai berbalik melemah seiring imbas kenaikan laju USD. Dia memprediksi rupiah akan berada di level support Rp13.500/USD serta resisten Rp13.400/USD.
Di sisi lain, lanjut dia, laju USD kembali mengalami kenaikan terhadap rupiah setelah terimbas kembali melemahnya laju harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan data yang diperoleh, minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat turun hingga USD26,13/barel pada perdagangan intraday atau di bawah rekor terendah sejak Mei 2003, senilai USD26,19 yang dibukukan pada Januari.
Meski demikian, laju penurunan harga WTI mulai berkurang jelang akhir perdagangan di mana hanya turun 1,24% ke USD27,11/barel di bursa komoditas New York.
"Terhadap mata uang lainnya, laju USD terlihat menguat antara lain EUR, AUD, JPY, CHF dan beberapa lainnya. Sehingga, memberikan imbas negatif pada laju rupiah," pungkas dia.
"Apalagi jika rilis data-data ekonomi pada awal pekan tidak begitu baik, maka perlu kiranya diwaspadai potensi pelemahan lanjutkan rupiah," ujarnya di Jakarta, Senin (15/2/2016).
Reza mengatakan, pasca laju rupiah mengalami kenaikan, kini mulai berbalik melemah seiring imbas kenaikan laju USD. Dia memprediksi rupiah akan berada di level support Rp13.500/USD serta resisten Rp13.400/USD.
Di sisi lain, lanjut dia, laju USD kembali mengalami kenaikan terhadap rupiah setelah terimbas kembali melemahnya laju harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan data yang diperoleh, minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat turun hingga USD26,13/barel pada perdagangan intraday atau di bawah rekor terendah sejak Mei 2003, senilai USD26,19 yang dibukukan pada Januari.
Meski demikian, laju penurunan harga WTI mulai berkurang jelang akhir perdagangan di mana hanya turun 1,24% ke USD27,11/barel di bursa komoditas New York.
"Terhadap mata uang lainnya, laju USD terlihat menguat antara lain EUR, AUD, JPY, CHF dan beberapa lainnya. Sehingga, memberikan imbas negatif pada laju rupiah," pungkas dia.
(izz)