Premium RI Lebih Mahal dari Pertamax Malaysia, Faisal Basri Heran
Rabu, 02 Maret 2016 - 13:39 WIB
Premium RI Lebih Mahal dari Pertamax Malaysia, Faisal Basri Heran
A
A
A
JAKARTA - Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengaku heran kenapa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di Indonesia lebih mahal dari BBM sekelas pertamax plus di Malaysia. Dia juga menjelaskan perbedaan harga jenis BBM dengan kadar yang sama yakni RON 95 antara dua negara
"Di Malaysia sekelas pertamax plus harganya Rp5.143/liter, di sini pertamax plus Rp8.950/liter, di Indonesia beda Rp3.000/liter, gila. Masa pertamax plus RON 95 lebih murah dari premium RON 88 yang Rp7.150/liter," ujarnya di Jakarta, Rabu (2/3/2016).
Menurutnya di saat harga minyak dunia sedang turun seharusnya pemerintah beserta dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bisa mengerti alasan kenapa harga BBM harus turun. (Baca Juga: Harga Pertamax dan Pertalite Turun Hari Ini)
"Menteri ESDM belaga bloon, DPR juga tidak bersuara. Ini tidak mengerti deh, tapi yang jelas adalah kita hemat minyak luar biasa dari defisit USD27,6 pada 2014 jadi USD14 miliar pada 2015, penguatan rupiah menolong luar biasa," sambungnya.
Turunnya harga minyak, lanjut dia, juga membuat angka Current Account Defisit turun dari 3,1% pada 2014 menjadi 2,1% pada 2015. "3,1% jadi 2,1% pada 2015, CAD turun akibat dari minyak itu dan menolong transaksi perdagangan bulanan. Sering surplus dari defisit, tapi tiga bulan terakhir agak jelek," pungkasnya.
"Di Malaysia sekelas pertamax plus harganya Rp5.143/liter, di sini pertamax plus Rp8.950/liter, di Indonesia beda Rp3.000/liter, gila. Masa pertamax plus RON 95 lebih murah dari premium RON 88 yang Rp7.150/liter," ujarnya di Jakarta, Rabu (2/3/2016).
Menurutnya di saat harga minyak dunia sedang turun seharusnya pemerintah beserta dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bisa mengerti alasan kenapa harga BBM harus turun. (Baca Juga: Harga Pertamax dan Pertalite Turun Hari Ini)
"Menteri ESDM belaga bloon, DPR juga tidak bersuara. Ini tidak mengerti deh, tapi yang jelas adalah kita hemat minyak luar biasa dari defisit USD27,6 pada 2014 jadi USD14 miliar pada 2015, penguatan rupiah menolong luar biasa," sambungnya.
Turunnya harga minyak, lanjut dia, juga membuat angka Current Account Defisit turun dari 3,1% pada 2014 menjadi 2,1% pada 2015. "3,1% jadi 2,1% pada 2015, CAD turun akibat dari minyak itu dan menolong transaksi perdagangan bulanan. Sering surplus dari defisit, tapi tiga bulan terakhir agak jelek," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :