Darmin Enggan Bocorkan Penurunan Harga Premium dan Solar
Selasa, 29 Maret 2016 - 21:35 WIB
Darmin Enggan Bocorkan Penurunan Harga Premium dan Solar
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution enggan membocorkan rencana pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium maupun solar. Meskipun telah beberapa kali dirapatkan, namun dia berkilah bahwa penurunan harga BBM akan diumumkan langsung Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.
Dia mengatakan, Menteri ESDM dalam satu atau dua hari ini akan mengumumkan langsung penurunan harga BBM. Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini pun enggan berkomentar terkait PT Pertamina (Persero) yang telah lebih dulu menurunkan harga pertamax esok hari.
"Kalau harga (BBM) saya belum akan ngomong, biarlah nanti mungkin satu dua hari akan diumumkan, biarlah ESDM yang mengumumkan, jangan saya. Saya lebih baik tidak mengumumkan, biar ESDM. Dalam prosedur itu ESDM yang mengumumkan walaupun sudah dirapatkan" katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (29/3/2016).
Menurutnya, penurunan harga BBM ini dengan pertimbangan harga minyak dunia yang juga mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir. Namun, lantaran akhir-akhir ini harga minyak dunia kembali terkerek maka dapat dipastikan bahwa penurunan harga BBM tidak akan terlalu dalam.
"Boleh jadi beberapa bulan ke depan (harga minyak dunia) akan naik, sehingga tidak menurunkan tidak sebesar menurunkan itu, kita tetap punya bumper kalau nanti naik tidak perlu menaikan harga BBM buru-buru," tandas Darmin.
Sekadar informasi, Pertamina kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-PSO yang menjadi kewenangannya, yaitu pertamax dan pertalite sebesar Rp200 per liter. Hal ini guna mengantisipasi kekosongan stok premium, pasca pemerintah menurunkan harga premium dan solar untuk periode April 2016.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, keputusan perseroan untuk menurunkan lebih dulu pertamax dan pertalite lantaran tidak ingin kejadian seperti 5 Januari 2016 kembali terjadi. Kala itu, pemerintah menurunkan harga premium dan solar cukup dalam, dan menyebabkan pengusaha SPBU meminimisasi stok dengan menunda pembelian BBM serta konsumen yang juga menunda pembelian BBM, untuk menunggu harga baru.
"Saya enggak mau kejadian itu terulang. Untuk pengusaha kita bisa atasi dengan stoknya kita penuhin dan selisih ahrganya kita tanggung. Tapi, di sisi konsumen enggak bisa kita paksa," katanya.
Dia mengatakan, Menteri ESDM dalam satu atau dua hari ini akan mengumumkan langsung penurunan harga BBM. Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini pun enggan berkomentar terkait PT Pertamina (Persero) yang telah lebih dulu menurunkan harga pertamax esok hari.
"Kalau harga (BBM) saya belum akan ngomong, biarlah nanti mungkin satu dua hari akan diumumkan, biarlah ESDM yang mengumumkan, jangan saya. Saya lebih baik tidak mengumumkan, biar ESDM. Dalam prosedur itu ESDM yang mengumumkan walaupun sudah dirapatkan" katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (29/3/2016).
Menurutnya, penurunan harga BBM ini dengan pertimbangan harga minyak dunia yang juga mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir. Namun, lantaran akhir-akhir ini harga minyak dunia kembali terkerek maka dapat dipastikan bahwa penurunan harga BBM tidak akan terlalu dalam.
"Boleh jadi beberapa bulan ke depan (harga minyak dunia) akan naik, sehingga tidak menurunkan tidak sebesar menurunkan itu, kita tetap punya bumper kalau nanti naik tidak perlu menaikan harga BBM buru-buru," tandas Darmin.
Sekadar informasi, Pertamina kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-PSO yang menjadi kewenangannya, yaitu pertamax dan pertalite sebesar Rp200 per liter. Hal ini guna mengantisipasi kekosongan stok premium, pasca pemerintah menurunkan harga premium dan solar untuk periode April 2016.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, keputusan perseroan untuk menurunkan lebih dulu pertamax dan pertalite lantaran tidak ingin kejadian seperti 5 Januari 2016 kembali terjadi. Kala itu, pemerintah menurunkan harga premium dan solar cukup dalam, dan menyebabkan pengusaha SPBU meminimisasi stok dengan menunda pembelian BBM serta konsumen yang juga menunda pembelian BBM, untuk menunggu harga baru.
"Saya enggak mau kejadian itu terulang. Untuk pengusaha kita bisa atasi dengan stoknya kita penuhin dan selisih ahrganya kita tanggung. Tapi, di sisi konsumen enggak bisa kita paksa," katanya.
(dmd)
Lihat Juga :