USD Defensif, Rupiah Awal Pekan Dibuka Positif
Senin, 04 April 2016 - 10:04 WIB
USD Defensif, Rupiah Awal Pekan Dibuka Positif
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan awal pekan ini dibuka positif, setelah pada penutupan akhir pekan kemarin berkahir menguat. Penguatan rupiah hari ini di tengah defensifnya USD terhadap mata uang euro dan yen.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.145/USD. Posisi ini tercatat menguat dari posisi akhir pekan kemarin yang berada di posisi Rp13.200/USD.
Posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance hari ini dibuka menguat di level Rp13.148/USD dari penutupan akhir pekan kemarin yang berada di level Rp13.155/USD. Rupiah pada pukul 10.00 WIB terus bergerak positif ke level Rp13.145/USD.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah juga dibuka menguat atau berada di level Rp13.158/USD dengan kisaran Rp13.126-Rp13.161/USD dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.167/USD dan pada pukul 09.57 WIB terus bergerak ke zona positif di level Rp13.148/USD.
Sementara, berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pada pukul 10.00 WIB berada di level Rp13.147/USD. Posisi ini terlihat menguat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.168/USD.
Dilansir dari Reuters, USD tercatat defensif pada pagi ini terhedap euro dan yen setelah adanya laporan pekerjaan AS dan menimbulkan Federal Reserve (The Fed) berhati-hati dalam menaikkan suku bunga tahun ini.
Euro terhadap USD berada di level 1,1393, mendekati level tertinggi dalam lima bulan di level 1,1438. Sementara, USD terhadap yen juga melemah ke level 111,56.
Data nonfarm payrolls AS pada bulan lalu naik menjadi 215.000, sedikit di atas ekspektasi dan rata-rata penghasilan per jam naik setelah pada Februari tergelincir. Namun, tingkat pengangguran naik tipis menjadi 5,0% dari level terendah dalam delapan tahun sebesar 4,9%.
"Data pekerjaan menggarisbawahi pemulihan yang stabil terus menerus oleh ekonomi AS. Tapi The Fed tidak mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga pada Maret, karena kekhawatiran tentang ekonomi di luar negeri. Sehingga, laporan pekerjaan yang kuat tidak berbuat banyak untuk mendukung harapan pengetatan," kata Shin Kadota, kepala strategi Japan FX di Barclays di Tokyo.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada level Rp13.145/USD. Posisi ini tercatat menguat dari posisi akhir pekan kemarin yang berada di posisi Rp13.200/USD.
Posisi rupiah terhadap USD berdasarkan data Yahoo Finance hari ini dibuka menguat di level Rp13.148/USD dari penutupan akhir pekan kemarin yang berada di level Rp13.155/USD. Rupiah pada pukul 10.00 WIB terus bergerak positif ke level Rp13.145/USD.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah juga dibuka menguat atau berada di level Rp13.158/USD dengan kisaran Rp13.126-Rp13.161/USD dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.167/USD dan pada pukul 09.57 WIB terus bergerak ke zona positif di level Rp13.148/USD.
Sementara, berdasarkan data Sindonews bersumber dari Limas, rupiah pada pukul 10.00 WIB berada di level Rp13.147/USD. Posisi ini terlihat menguat dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp13.168/USD.
Dilansir dari Reuters, USD tercatat defensif pada pagi ini terhedap euro dan yen setelah adanya laporan pekerjaan AS dan menimbulkan Federal Reserve (The Fed) berhati-hati dalam menaikkan suku bunga tahun ini.
Euro terhadap USD berada di level 1,1393, mendekati level tertinggi dalam lima bulan di level 1,1438. Sementara, USD terhadap yen juga melemah ke level 111,56.
Data nonfarm payrolls AS pada bulan lalu naik menjadi 215.000, sedikit di atas ekspektasi dan rata-rata penghasilan per jam naik setelah pada Februari tergelincir. Namun, tingkat pengangguran naik tipis menjadi 5,0% dari level terendah dalam delapan tahun sebesar 4,9%.
"Data pekerjaan menggarisbawahi pemulihan yang stabil terus menerus oleh ekonomi AS. Tapi The Fed tidak mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga pada Maret, karena kekhawatiran tentang ekonomi di luar negeri. Sehingga, laporan pekerjaan yang kuat tidak berbuat banyak untuk mendukung harapan pengetatan," kata Shin Kadota, kepala strategi Japan FX di Barclays di Tokyo.
(izz)