BI Repo Rate Dinilai Obat Sementara 'Penyakit' Moneter

Minggu, 17 April 2016 - 15:27 WIB
BI Repo Rate Dinilai...
BI Repo Rate Dinilai Obat Sementara 'Penyakit' Moneter
A A A
JAKARTA - Ekonom Indef, Dzulfian Syafrian menuturkan pangkal masalah dari efektivitas kebijakan sebenarnya terletak pada dua hal yakni struktur pasar keuangan Indonesia dan kredibiltas Bank Indonesia (BI). Pertama, struktur pasar keuangan Indonesia menurutnya masih sangat tidak berkembang (under-developed), dangkal dan sangat bank-sentris.

"Sebagian besar transaksi keuangan, masih sangat mengandalkan peran bank. Sedangkan sektor keuangan lainnya seperti pasar modal, dana pensiun, asuransi, masih sangat kecil perannya bagi sektor keuangan Indonesia," ungkap dia di Jakarta, Minggu (17/4/2016).

Alhasil, lanjut dia, perbankan memiliki bargaining power yang sangat tinggi yang membuat kebijakan BI tidak efektif jika tidak direspon oleh dunia perbankan. Selain itu, struktur perbankan Indonesia juga tidak efisien, selain terlalu banyak bank, struktur dana pihak ketiga (DPK) juga hanya terkonsentrasi oleh beberapa rekening.

Data LPS menunjukkan bahwa sekitar 1% nasabah, menguasai lebih dari setengah DPK perbankan Indonesia. Menurut dia, data ini menunjukkan bahwa ketimpangan kepemilikan modal di Indonesia sungguh luar biasa.

"Penguasaan modal oleh segelintir orang atau struktur perbankan yang timpang. Inilah yang menjadi alasan utama inefektivitas kebijakan moneter selama ini karena suku bunga perbankan menjadi rigid dan kaku ke bawah (sulit turun, namun sangat mudah naik)," terang dia.

Oleh karena itu, selama struktur perbankan Indonesia masih seperti ini, kebijakan moneter di Indonesia akan kurang menggigit. Sementara itu, terkait kredibilitas BI hal ini sangat tergantung track record BI dalam memprediksi dan mengontrol perekonomian Indonesia selama ini.

Jika prediksi BI sering melesat dari target, misalkan target inflasi, maka semakin rendah pula kredibilitas BI di mata publik atau pasar. Selain itu, pernyataan-pernyataan para petinggi BI juga menjadi faktor penting kredibilitas BI ini. Semakin dipercaya dan kredibel berbagai pernyataan tersebut, semakin efektif pula kebijakan yang BI terapkan.

"Jadi singkat kata, BI repo rate bisa jadi obat sementara, namun operasi besar berbagai penyakit dalam pasar keuangan Indonesia (struktur pasar keuangan Indonesia yang inefisien, timpang dan dangkal) harus tetap terus digalakkan," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BI-Rate Tetap di Level...
BI-Rate Tetap di Level 6,25 Persen
Tok! BI Turunkan Suku...
Tok! BI Turunkan Suku Bunga Acuan ke Level 5,75 Persen
Perry Warjiyo Ungkap...
Perry Warjiyo Ungkap Ada Ruang Penurunan BI Rate di Penutup Tahun 2024
Breaking News! BI Pangkas...
Breaking News! BI Pangkas Suku Bunga Jadi 6%
4 Kali Pangkas Suku...
4 Kali Pangkas Suku Bunga Acuan, Gubernur Perry: BI Rate Masih Bisa Turun Lagi
Ekonom: BI Berpeluang...
Ekonom: BI Berpeluang Lanjutkan Pemangkasan BI Rate hingga 5,50% Akhir 2024
Berita Terkini
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
26 menit yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
50 menit yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
1 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
1 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
1 jam yang lalu
KKP Pertegas Komitmen...
KKP Pertegas Komitmen Perkuat Pengawasan pada Momentum Hari Internasional Anti IUU Fishing
1 jam yang lalu
Infografis
7 Gejala Awal Penyakit...
7 Gejala Awal Penyakit Ginjal yang Terlihat di Kaki dan Tangan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved