Awas, Holding BUMN Energi Rawan Penumpang Gelap

Senin, 18 April 2016 - 18:24 WIB
Awas, Holding BUMN Energi...
Awas, Holding BUMN Energi Rawan Penumpang Gelap
A A A
JAKARTA - Pemerintah diminta berhati-hati terkait adanya kemungkinan penumpang gelap alias penyusup dalam rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membentuk holding BUMN energi. Khususnya terkait kepemilikan saham seperti disampaikan oleh Institute Development of Economics and Finance (Indef).

(Baca Juga: Dilebur dengan Pertagas, PGN Kecipratan Proyek Pertamina)

Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati menerangkan pemerintah harus waspada terkait posisi kepemilikan saham yang ada di luar pemerintah jika pembentukan holding tersebut dilakukan dengan sistem akuisisi (merger). Hal ini mengingat PT Perusahaan Gas Negara (PGN) merupakan perusahaan pelat merah go public yang sebagian sahamnya dimiliki oleh swasta.

Seperti diketahui sebelumnya dalam rencana holding BUMN energi nantinya PGN dan Pertagas akan menjadi anak usaha PT Pertamina (Persero), selaku induk holding. "‎‎Sebenarnya konsepnya harus apple to apple. Saya tidak tahu posisi dari BUMN lainnya, tetapi kalau posisinya Pertamina dan PGN bentuk holdingnya dimerger, itu harus hati-hati kepemilikan saham yang di luar pemerintah posisinya seperti apa," jelas dia di Universitas Atmajaya, Jakarta, Senin (18/4/2016).

"Karena ini akan memengaruhi policy dan pemanfaatan upaya holding itu sendiri. Jangan sampai nanti ada penumpang gelap yang mendapatkan kemanfaatan bukan masyarakat," sambungnya.

Dia menambahkan, holding tersebut pada dasarnya guna memperkuat jaringan bisnis yang ada di perusahaan pelat merah tersebut. Dirinya memberikan catatan, holding tersebut harus mencakup juga anak usaha dari perusahaan pelat merah tersebut. Hal ini agar anak usaha yang tidak sesuai dengan core bisnis BUMN tersebut dapat ketahuan.

"Hal ini justru akan efisien dan tidak banyak menimbulkan moral hazard. Dan untuk meningkatkan positioning strategis dan peran BUMN sebagai agent of development. Jadi kalau misalnya sekarang, Krakatau Steel jika semua aset fokus ke industri dasar membangun industri baja, ini akan jauh lebih efisien daripada Krakatau Steel bisnisnya macam-macam," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertagas Uji Coba Alirkan...
Pertagas Uji Coba Alirkan Gas ke BOB Siak Pusako, Ketahanan Energi Riau Makin Andal
Kerahkan Satgas Pengamanan...
Kerahkan Satgas Pengamanan Libur Nataru 2022, PGN Pastikan Kelancaran Distribusi dan Layanan Gas Bumi Nasional
Dapat Gas Murah dari...
Dapat Gas Murah dari PGN, Baja Krakatau Steel Bakal Kompetitif
70% LPG Masih Impor,...
70% LPG Masih Impor, Bos Pertamina Menjawab: Sah-sah Saja
Inovasi Pemasaran, PGN...
Inovasi Pemasaran, PGN Gencarkan Strategi Omnichannel
Pengumuman, PGN Akan...
Pengumuman, PGN Akan Berubah Nama Jadi Pertamina Gas Negara
Berita Terkini
IHSG Makin Parah, Hari...
IHSG Makin Parah, Hari Ini Ditutup Ambles 4,20 Persen ke 5.594
15 menit yang lalu
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
25 menit yang lalu
APHI dan New Forests...
APHI dan New Forests Dukung Investasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
41 menit yang lalu
Rupiah Hari Ini Berakhir...
Rupiah Hari Ini Berakhir Merayap ke Rp18.036 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
42 menit yang lalu
5 Hal Yang Wajib Anda...
5 Hal Yang Wajib Anda Ketahui Sebelum Datang ke Tempat Gestun Terdekat
53 menit yang lalu
Defisit APBN Mei 2026...
Defisit APBN Mei 2026 Tembus Rp180,4 Triliun, Purbaya: Sangat Aman
1 jam yang lalu
Infografis
5 Titik Rawan Perang...
5 Titik Rawan Perang Dunia III pada Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved