Sri Mulyani Ungkap Panama Papers Bukti Sistem Pajak RI Lemah

Senin, 18 April 2016 - 20:52 WIB
Sri Mulyani Ungkap Panama...
Sri Mulyani Ungkap Panama Papers Bukti Sistem Pajak RI Lemah
A A A
JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Sri Mulyani Indrawati ikut mengomentari skandal Panama Papers yang dalam daftarnya juga memunculkan nama-nama pengusaha hingga pejabat di Indonesia. Diduga mereka yang termasuk dalam list berupa menyembunyikan kekayaan di negara surga pajak (tax haven) untuk menghindar dari kewajiban bayar pajak.

Managing Director World Bank ini menilai, kebocoran data tersebut berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat dalam membayar pajak. Sebab, jika pelanggaran tersebut terus dilakukan maka masyarakat yang tidak memiliki uang untuk disembunyikan di tax haven akan enggan membayar pajak.

"Sebagai Menteri Keuangan di negara asal saya Indonesia, saya melihat langsung bagaimana sistem pajak yang lemah mengikis kepercayaan publik," katanya seperti dikutip dalam akun LinkedIn resmi Sri‎ Mulyani di Jakarta, Senin (18/4/2016).

Namun di sisi lain, sambung dia, lemahnya sistem pajak di Tanah Air menumbuhkan kapitalisme kroni, dengan munculnya pasar gelap bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, nepotisme untuk mendapatkan pekerjaan, hingga praktik suap di kalangan pegawai negeri sipil (PNS). Menurutnya, penghindaran pajak yang dilakukan kaum elit tersebut adalah hal yang umum terjadi di Tanah Air.

"Sehingga negara tidak bisa memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur, menciptakan lapangan kerja, dan memerangi kemiskinan," imbuh dia.

Dia juga menilai, memperkenalkan konsep transparansi dan akuntabilitas dalam sistem yang sudah rusak tersebut lebih sulit daripada menghadapi perlawanan dari pihak oposisi politik. Padahal, saat menjabat dulu dirinya telah berusaha memperbaiki hal teknis yang mendasar, seperti audit yang lebih baik, penguatan pengendalian internal, dan sistem teknologi informasi yang lebih baru guna meminimalkan interaksi pribadi dan peluang menerima suap.

"Kami juga menciptakan insentif bagi PNS untuk meningkatkan semangat dan kedisiplinan mereka. Indonesia adalah salah satu contoh bagaimana sebuah kontrak sosial yang rusak telah menghambat pembangunan," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Siapa di Balik Geger...
Siapa di Balik Geger Pandora Papers?
Indonesia Sedang Demam...
Indonesia Sedang Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Buntut Pandora Papers,...
Buntut Pandora Papers, Jaksa Chile Akan Selidiki Presiden Pinera
Pandora Papers Bongkar...
Pandora Papers Bongkar Deretan Miliarder Dunia Curangi Pajak, Termasuk Raja Abdullah
Bos Media China: Pandora...
Bos Media China: Pandora Papers Hanya Alat Barat Ikut Campur di Negara-negara Berkembang
Donald Trump Ancam Ambil...
Donald Trump Ancam Ambil Alih Terusan Panama, Ini Respons Presiden Panama
Berita Terkini
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
3 menit yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
53 menit yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
1 jam yang lalu
Heboh Sell Indonesia...
Heboh 'Sell Indonesia' saat Rupiah-IHSG Terpuruk, Muncul Sosok Lama Bikin Kepercayaan Runtuh
1 jam yang lalu
Raih Predikat Tertinggi...
Raih Predikat Tertinggi IRCA Dua Kali Berturut-turut, GDPS Tegaskan Budaya Kepatuhan
2 jam yang lalu
Acaraki Jamu Festival...
Acaraki Jamu Festival 2026 Dorong Jamu Jadi Penggerak Ekonomi Nasional
3 jam yang lalu
Infografis
Tegas, Sri Mulyani Minta...
Tegas, Sri Mulyani Minta Anak Buahnya Netral di Pemilu 2024
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved