Mengukur Kepribadian Saham

Senin, 25 April 2016 - 06:01 WIB
Mengukur Kepribadian...
Mengukur Kepribadian Saham
A A A
LUKAS SETIA ATMAJA
Financial Expert - Prasetiya Mulya Business School


SEPERTI manusia, saham pun memiliki tipe kepribadian yang beraneka ragam. Ada saham yang kurang peka, ada pula saham yang sensitif terhadap perubahan lingkungan bisnis. Kita bisa mengenali sensitivitas saham dari parameter yang disebut “beta”.

Beta saham adalah salah satu indikator penting yang harus kita kenali sebelum membeli saham tersebut. Beta sebuah saham mengindikasikan sensitivitas harga atau imbal hasil saham terhadap perubahan harga atau imbal hasil indeks pasar. Yang dimaksud dengan indeks pasar (market index) adalah angka indeks harga saham-saham yang terdaftar pada bursa saham di sebuah negara.

Di Indonesia yang sering digunakan sebagai proxy (wakil) untuk indeks pasar adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Beta saham sebesar 2 artinya jika IHSG naik 1%, imbal hasil saham tersebut naik 2% juga. Demikian pula, jika IHSG turun 1%, beta saham akan turun 2%. Artinya semakin besar koefisien beta saham, semakin sensitif saham tersebut terhadap perubahan IHSG.

Bila saham memiliki beta kurang dari 1, sering disebut saham defensif. Jika betanya di atas 1, termasuk kategori saham agresif. Besaran beta dipengaruhi beberapa faktor misalnya jenis bisnisnya. Perusahaan yang pendapatannya relatif stabil cenderung memiliki beta yang rendah. Pendapatan adalah jumlah barang terjual dikali harga jual.

Maka, semakin stabil harga dan permintaan barang, semakin rendah betanya. Ambil contoh, pada umumnya beta perusahaan barang keperluan rumah tangga (RT) lebih kecil daripada beta perusahaan properti. Beta PT Unilever Indonesia Tbk hanya 0,2, sedangkan beta saham PT Ciputra Development Tbk mencapai 2,22.

Mengapa? Pendapatan perusahaan barang keperluan RT lebih stabil dibanding pendapatan perusahaan properti. Saat pertumbuhan ekonomi melemah dan suku bunga kredit tinggi, permintaan akan barang keperluan RT tidak banyak berkurang. Tidak demikian dengan properti yang pembeliannya bisa ditunda. Beta juga dipengaruhi jumlah utang sebuah perusahaan. Semakin tinggi rasio utang terhadap modal perusahaan, semakin besar betanya.

Mengapa? Semakin tinggi utang, semakin sensitif laba bersih per saham terhadap perubahan pendapatan per saham. Karena banyak faktor yang memengaruhi beta saham, jangan heran jika ada dua saham di sektor bisnis yang sama memiliki beta yang amat berbeda. Misalnya, beta saham Kalbe Farma adalah 0.87, sedangkan beta saham Kimia Farma mencapai 2,61. Beta saham dihitung menggunakan data historis harga saham dan IHSG.

Pada umumnya beta dihitung menggunakan data minimal lima tahun terakhir. Angka lima tahun mewakili rata-rata durasi sebuah siklus bisnis. Dari data historis perubahan harga saham dan IHSG, kita bisa mengestimasi beta dengan metode regresi. Namun, investor saham tidak perlu bersusah payah menghitung beta.

Mereka bisa memanfaatkan beta yang telah dihitung oleh Thomson Reuters, sebuah perusahaan informasi terkemuka. Caranya mudah. Pada kotak pencarian di Google kita tinggal ketik kata “beta, kode saham, dan reuters .” Misalnya, untuk mencari beta PT Bank Central Asia Tbk, kita ketik: beta BBCA reuters.

Pada laman BBCA di www.reuters.com akan tersedia informasi beta BBCA. Pada Tabel bisa dicermati beta saham berbagai sektor. Saham bank, konstruksi, properti, dan semen memiliki beta yang tinggi. Sedangkan saham batu bara, perkebunan, dan makanan memiliki beta sedang (mendekati beta pasar atau 1).

Saham-saham dengan beta rendah ditemukan di sektor telekomunikasi, farmasi, dan rokok. Dengan mengetahui beta saham, kita bisa memprediksi apa yang bakal terjadi dengan harga saham kita jika IHSG berubah. Investor yang cenderung cari aman bisa memilih saham-saham dengan beta rendah (kurang dari 1), sedangkan investor lebih berani mengambil risiko bisa memilih saham-saham dengan beta tinggi (lebih dari 1).

Jika investor yakin bahwa bursa saham akan masuk periode bullish (harga saham naik), ia bisa mengoleksi saham-saham dengan beta yang besar. Saham seperti ini biasanya melambung lebih tinggi daripada IHSG. Jika investor percaya bursa saham sedang menuju periode bearish (harga saham turun), lebih bijaksana jika memegang saham-saham dengan beta rendah.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jadi Senjata Pikat Cewek,...
Jadi Senjata Pikat Cewek, Ini Tips Mengasah Selera Humormu
Selamat Jalan Mas Edi...Kebaikanmu...
Selamat Jalan Mas Edi...Kebaikanmu Akan Selalu Kami Kenang
Tiga Jurnalis SINDO...
Tiga Jurnalis SINDO Raih Juara Lomba Tulis dan Foto Telkomsel
Telkom Indonesia dan...
Telkom Indonesia dan SINDO Makassar Perpanjang Kerjasama
HUT ke-16, Ini Link...
HUT ke-16, Ini Link Registrasi Webinar Koran Sindo: Tren Bank Digital dan Geliat UMKM Go International
Indonesiasentris & Pembangunan...
Indonesiasentris & Pembangunan Seluruh Rakyat Indonesia
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
7 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
8 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
8 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
9 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
9 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
9 jam yang lalu
Infografis
Gegara Saham Anjlok,...
Gegara Saham Anjlok, META Bakal Pecat 12.000 Karyawan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved