Laju Rupiah Diragukan Bergerak ke Tren Positif
Selasa, 26 April 2016 - 08:13 WIB
Laju Rupiah Diragukan Bergerak ke Tren Positif
A
A
A
JAKARTA - Laju rupiah pada hari kedua pekan terakhir di April ini tampaknya belum dapat memenuhi harapan untuk dapat bergerak positif melihat masih bertahannya laju dolar Amerika Serikat (USD) di zona hijau. Seperti diketahui kemarin rupiah berakhir masih lesu dan tetap berada pada kisaran level Rp13.200/USD.
Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memprediksi rupiah akan berada di level support Rp13.245/USD serta resisten Rp13.220/USD serta tetap cermati sentimen yang ada terhadap laju mata uang Garuda. "Waspadai jika terjadi pelemahan lanjutan," ujar dia di Jakarta, Selasa (26/4/2016).
Dia menjelaskan, kembali penguatan laju USD memberikan konsekuensi terhadap laju rupiah yang akhirnya kembali mengalami pelemahan.
Kurs USD menguat terhadap sebagian besar mata uang utama pada perdagangan semalam karena The Fed (Bank Sentral AS) diperkirakan menaikkan suku bunga tahun ini, sedangkan bank sentral di Eropa dan Jepang kemungkinan melepaskan stimulus lagi.
"Sentimen negatif juga datang dari rilis pertumbuhan foreign direct investment (FDI) yang lebih rendah dari sebelumnya. Dengan kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali mentransaksikan USD dan melepas mata uang yang lebih memiliki risiko tinggi," pungkasnya.
Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada memprediksi rupiah akan berada di level support Rp13.245/USD serta resisten Rp13.220/USD serta tetap cermati sentimen yang ada terhadap laju mata uang Garuda. "Waspadai jika terjadi pelemahan lanjutan," ujar dia di Jakarta, Selasa (26/4/2016).
Dia menjelaskan, kembali penguatan laju USD memberikan konsekuensi terhadap laju rupiah yang akhirnya kembali mengalami pelemahan.
Kurs USD menguat terhadap sebagian besar mata uang utama pada perdagangan semalam karena The Fed (Bank Sentral AS) diperkirakan menaikkan suku bunga tahun ini, sedangkan bank sentral di Eropa dan Jepang kemungkinan melepaskan stimulus lagi.
"Sentimen negatif juga datang dari rilis pertumbuhan foreign direct investment (FDI) yang lebih rendah dari sebelumnya. Dengan kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali mentransaksikan USD dan melepas mata uang yang lebih memiliki risiko tinggi," pungkasnya.
(akr)