Pengamat: Mustahil Ekonomi RI Tumbuh 6% dengan Cepat
Jum'at, 06 Mei 2016 - 15:47 WIB
Pengamat: Mustahil Ekonomi RI Tumbuh 6% dengan Cepat
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Reform on Ecoomics (CORE) Indonesia Hendri Saparini menilai, dalam waktu dekat ekonomi Indonesia tidak mungkin tumbuh 6%. Hal ini juga diakibatkan dari pertumbuhan ekonomi negara lain yang menurun.
Belum lagi, kata Hendri, masyarakat di Indonesia masih banyak yang menganggur. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 7,02 juta sampai Maret 2016.
"Kalau melihat sebagian besar ekspor kita sebagian besar dari alam dan permitaan luar negeri turun, kemudian dampaknya ke layoff. Itu juga pengaruh ke ekonomi kita. Jadi, tidak mungkin ekonomi kita tumbuh 6% dalam waktu cepat," kata Hendri kepada Sindonews, Jakarta, Jumat (6/5/2016).
Jadi, kata dia, tentu sekarang ini yang harus didukung pembangunan infrastruktur untuk menciptakan lapangan kerja baru. "Nah, kalau untuk meningkatkan tenaga kerja mungkin tergantung juga pada APBN, karena infrastruktur dibangun pakai APBN. Tapi paling tidak, itu bisa megompensasi penciptaan lapangan kerja di sektor lain," ujarnya.
Hendri menuturkan, kondisi saat ini sangat sulit, apalagi berharap Indonesia bisa tumbuh tinggi. Namun, pemerintah kembali diingatkan agar jangan sampai salah mengambil kebijakan.
"Pemerintah pokoknya jangan salah mengambil respons kebijakan, sehingga jangan sampai kondisi lebih buruk dari yang semestinya bisa dilakukan," pungkas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I/2016 tumbuh sebesar 4,92%. Jika dibanding kuartal I/2015, angka ini tumbuh positif karena pada periode tersebut pertumbuhan ekonomi mencapai 4,73%.
"2016 ini lebih baik dibandingkan dengan 2015. Karena kita berangkat dari angka 4,92%," kata Ketua BPS Suryamin di Jakarta, baru-baru ini.
Belum lagi, kata Hendri, masyarakat di Indonesia masih banyak yang menganggur. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 7,02 juta sampai Maret 2016.
"Kalau melihat sebagian besar ekspor kita sebagian besar dari alam dan permitaan luar negeri turun, kemudian dampaknya ke layoff. Itu juga pengaruh ke ekonomi kita. Jadi, tidak mungkin ekonomi kita tumbuh 6% dalam waktu cepat," kata Hendri kepada Sindonews, Jakarta, Jumat (6/5/2016).
Jadi, kata dia, tentu sekarang ini yang harus didukung pembangunan infrastruktur untuk menciptakan lapangan kerja baru. "Nah, kalau untuk meningkatkan tenaga kerja mungkin tergantung juga pada APBN, karena infrastruktur dibangun pakai APBN. Tapi paling tidak, itu bisa megompensasi penciptaan lapangan kerja di sektor lain," ujarnya.
Hendri menuturkan, kondisi saat ini sangat sulit, apalagi berharap Indonesia bisa tumbuh tinggi. Namun, pemerintah kembali diingatkan agar jangan sampai salah mengambil kebijakan.
"Pemerintah pokoknya jangan salah mengambil respons kebijakan, sehingga jangan sampai kondisi lebih buruk dari yang semestinya bisa dilakukan," pungkas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I/2016 tumbuh sebesar 4,92%. Jika dibanding kuartal I/2015, angka ini tumbuh positif karena pada periode tersebut pertumbuhan ekonomi mencapai 4,73%.
"2016 ini lebih baik dibandingkan dengan 2015. Karena kita berangkat dari angka 4,92%," kata Ketua BPS Suryamin di Jakarta, baru-baru ini.
(izz)
Lihat Juga :