Rupiah Diprediksi Sulit Dekati Rp13.000/USD
Sabtu, 07 Mei 2016 - 12:26 WIB
Rupiah Diprediksi Sulit Dekati Rp13.000/USD
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dalam beberapa waktu ke depan diprediksi sulit mendekati level Rp13.000/USD. Meski demikian, diyakini nilai tukar mata uang Garuda itu tidak akan melewati Rp13.500/USD.
Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi memperkirakan, laju rupiah pada pekan depan masih bergerak stabil. Diprediksi berada di bawah level Rp13.500/USD.
"Rupiah masih stabil lah kalau saya lihat untuk minggu depan di bawah Rp13.500/USD. Agak sulit kalau balik mendekati Rp13.000/USD," ujarnya, melalui pesan online kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (7/5/2016).
Sementara, lanjut dia, dua sentimen positif yakni turunnya angka pengangguran dan deflasi tidak memperbaiki pergerakan rupiah. Investor asing lebih mengutamakan data pertumbuhan ekonomi yang justru di bawah ekspektasi. "Asing lebih lihat pertumbuhan ekonomi keseluruhan sama sentimen sell on May end of kuartal I/2016," katanya.
Dia menjelaskan, faktor terbesar yang membuat pergerakan rupiah terus tertekan yaitu akibat dari masih rendahnya harga minyak dunia. Kendati demikian, laju rupiah lebih baik dari negara lain.
"Minyak masih fluktuasi cenderung down trend. Biasanya harga minyak turun USD kuat. Emerging market kemarin malah depresiasi terus, rupiah kita yang masih kuat," pungkasnya.
Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi memperkirakan, laju rupiah pada pekan depan masih bergerak stabil. Diprediksi berada di bawah level Rp13.500/USD.
"Rupiah masih stabil lah kalau saya lihat untuk minggu depan di bawah Rp13.500/USD. Agak sulit kalau balik mendekati Rp13.000/USD," ujarnya, melalui pesan online kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (7/5/2016).
Sementara, lanjut dia, dua sentimen positif yakni turunnya angka pengangguran dan deflasi tidak memperbaiki pergerakan rupiah. Investor asing lebih mengutamakan data pertumbuhan ekonomi yang justru di bawah ekspektasi. "Asing lebih lihat pertumbuhan ekonomi keseluruhan sama sentimen sell on May end of kuartal I/2016," katanya.
Dia menjelaskan, faktor terbesar yang membuat pergerakan rupiah terus tertekan yaitu akibat dari masih rendahnya harga minyak dunia. Kendati demikian, laju rupiah lebih baik dari negara lain.
"Minyak masih fluktuasi cenderung down trend. Biasanya harga minyak turun USD kuat. Emerging market kemarin malah depresiasi terus, rupiah kita yang masih kuat," pungkasnya.
(dmd)