Jika Tak Ada Sentimen Ini, Rupiah Bisa Tembus di Atas Rp13.500/USD
Sabtu, 07 Mei 2016 - 14:33 WIB
Jika Tak Ada Sentimen Ini, Rupiah Bisa Tembus di Atas Rp13.500/USD
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan rupiah bisa menembus level Rp13.500/USD jika tidak ada dua sentimen yang muncul bulan ini. Yaitu, data inflasi dan kebijakan BI 7 Day Repo Rate.
Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi mengatakan, kedua sentimen tersebut menolong nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal Mei ini. Meski sekarang masih melemah di kisaran Rp13.200/USD.
"Kalau enggak karena data inflasi sama kebijakan BI 7 Day Repo Rate mungkin rupiah kita sekarang sudah di atas Rp13.500/USD," ujarnya melalui pesan online kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (7/5/2016).
Dia menjelaskan, sentimen yang justru paling sensitif memengaruhi nilai tukar rupiah yaitu perang harga minyak antar negara produsen. Tak hanya Indonesia, mata uang negara berkembang lainnya di Asia dipengaruhi hal tersebut.
"Iya emerging market terutama Asia lagi sensitif sama hal itu (perang harga minyak dunia). Terutama antara Timur Tengah sama Amerika Serikat," katanya.
Menurut Lanjar, harga minyak dunia yang masih dalam tren penurunan tidak lepas dari faktor politik di dalamnya. Sebab, perundingan di Doha pada beberapa waktu lalu gagal mencapai kesepakatan.
"Kemarin kan OPEC ngadain perundingan Doha gagal kesepakatan sama Timur Tengah. Jadinya ya masih enggak jelas nih, masih ada yang enggak mau freezing production (menghentikan produksi)," pungkasnya.
Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi mengatakan, kedua sentimen tersebut menolong nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal Mei ini. Meski sekarang masih melemah di kisaran Rp13.200/USD.
"Kalau enggak karena data inflasi sama kebijakan BI 7 Day Repo Rate mungkin rupiah kita sekarang sudah di atas Rp13.500/USD," ujarnya melalui pesan online kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (7/5/2016).
Dia menjelaskan, sentimen yang justru paling sensitif memengaruhi nilai tukar rupiah yaitu perang harga minyak antar negara produsen. Tak hanya Indonesia, mata uang negara berkembang lainnya di Asia dipengaruhi hal tersebut.
"Iya emerging market terutama Asia lagi sensitif sama hal itu (perang harga minyak dunia). Terutama antara Timur Tengah sama Amerika Serikat," katanya.
Menurut Lanjar, harga minyak dunia yang masih dalam tren penurunan tidak lepas dari faktor politik di dalamnya. Sebab, perundingan di Doha pada beberapa waktu lalu gagal mencapai kesepakatan.
"Kemarin kan OPEC ngadain perundingan Doha gagal kesepakatan sama Timur Tengah. Jadinya ya masih enggak jelas nih, masih ada yang enggak mau freezing production (menghentikan produksi)," pungkasnya.
(dmd)